Sore Hari Menyusuri Sungai Melaka

Sore Hari Menyusuri Sungai Melaka

- detikNews
Senin, 24 Okt 2011 12:25 WIB
Sore Hari Menyusuri Sungai Melaka
Melaka - Saat belajar sejarah, kita pasti tahu jika Melaka adalah kota pelabuhan yang saat strategis pada zaman kolonial. Lalu bagaimana kabarnya Melaka kini setelah tak menjadi kota pelabuhan?

Atas undangan Daihatsu, detikcom berkesempatan menjejakkan kaki beberapa waktu lalu di salah satu kota Malaysia ini. Kesan pertama kali yang didapatkan adalah tenang dan sepi, tidak ada lagi keramaian macam dulu ketika para pedagang saling bertukar komoditi andalannya masing-masing.

Petang sudah tiba saat saya sampai di penginapan yang berada tepat di bibir sungai Melaka. Terlihat jelas sisa-sisa kota pelabuhan seperti bangunan kuno dari berbagai bangsa dan gudang-gudang tua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita susuri dulu Sungai Melaka ini," tutur Hamzah, sang pemandu lokal kami.

Untuk menelusuri Sungai Melaka yang panjangnya sekitar 4,5 km ini ada perahu-perahu bermotor tunggal yang disewakan bagi pelancong. Setiap perahu bisa membawa 24 orang dengan biaya RM 10 tiap individu sekali trip pulang pergi.

Karena pelancong tidak terlalu banyak kala itu, juru mudi perahu pun memutuskan untuk mulai menjalankan perahunya meskipun bangku belum penuh terisi. Perjalanan dimulai dengan pemandangan gudang-gudang tua di sisi sungai yang sudah disulap menjadi cafe-cafe.

"Tahun 1990-an mulai dirapikan. Dulu orang tidak mau ke sini. Banyak orang buang air sembarangan di tepi sungai," tutur Hamzah.

Kami pun tersenyum mendengar penuturan Hamzah. "Tak ada beda jauh dengan di Ciliwung nih," seloroh salah seorang penumpang.

Butuh waktu sekitar 45 menit Untuk pulang pergi menelusuri sungai selebar 10-15 meter itu. Jika kita mau, juru mudi berkenan mengantarkan rombongan ke tepian laut lepas tempat Selat Malaka berada.

Selama perjalanan, kita akan disuguhi bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur manca negara. Ada bangunan bergaya asia, eropa, maupun melayu. Ada beberapa jembatan yang kita lewati selama perjalanan, antara lain jembatan Chan Boon Cheng, jembatan Jalan Hang Tuah, dan jembatan Kampung Jawa. Tak kelewatan beberapa aroma modernitas seperti 2 taman bermain dengan Bianglala-nya.

Harus diakui, pemerintah setempat cukup bisa mengelola Sungai Melaka dan sekitarnya menjadi objek wisata yang bisa menarik pelancong. Rumah-rumah tua di tepian sungai ada yang juga berfungsi sebagai penginapan murah maupun cafe. Pedestrian yang lebar dan bersih juga membuat nyaman pejalan kaki yang ingin menelusuri sungai dengan jalan yang berbeda.

"Kamar mulai RM 25 per malam tapi kamar mandi antre di luar. Bintang tiga sekitar RM 150," terang Hamzah.

Wisata menyusuri sungai dengan kapal ini juga dibuka untuk malam hari. Temaram lampu-lampu menjadikan suasana wisata budaya ini terasa berbeda.


(gah/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads