Dikisahkan Rahmat, percekcokan itu terjadi pada Jumat (14/10) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, keduanya baru saja melakukan hubungan intim.
Selama berhubungan intim dengan Hertati, Rahmat meminta temannya, Kris Bayudi (sebelumnya ditulis Kriswahyudi, red), untuk menemani anak Hertati, ER (6) di depan rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, Rahmat kemudian terbangun. Ia kemudian menuju ke WC yang terletak di belakang rumah petaknya.
"Habis itu, saya ke WC, lalu saya simpan handphone di kasur," imbuh Rahmat.
Sementara Rahmat pergi ke WC, Hertati yang tertidur rupanya terbangun. Ia kemudian membuka handphone milik Rahmat dan membaca percakapan SMS antara Rahmat dan Intan.
"Dia baca SMS yang dikirim Intan ke saya," kata dia.
Rahmat yang baru balik dari WC itu kemudian marah saat melihat Hertati mengoprek-oprek handphone miliknya. Rahmat kemudian pergi ke dapur dan mengambil pisau.
"Lalu saya tusuk perutnya dua kali," katanya sambil mempraketkkan penusukan itu.
Selain menjalin hubungan dengan Hertati, Rahmat juga menjalin hubungan dengan Intan. Rahmat dan Intan sudah menjalani hubungan itu selama 8 bulan.
"Intan juga sudah hamil 2 bulan," tutupnya.
Hertati dan ER dibunuh pada Jumat (15/10) dini hari di rumah kontrakannya di Jl Poncol, Gang Salon No 141 RT 004/003, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Usai dibunuh, mayat Hertati dimasukkan ke dalam kardus TV, sedangkan mayat ER dimasukkan dalam koper lalu dibuang di Cakung, Jakarta Timur.
(mei/nwk)











































