50 Penyair Se-ASEAN akan Baca Puisi di Riau

50 Penyair Se-ASEAN akan Baca Puisi di Riau

- detikNews
Sabtu, 22 Okt 2011 15:20 WIB
Pekanbaru - Sekitar 50 penyair se-ASEAN plus Korea akan berkumpul di Riau. Para budayawan ini akan menunjukan aksinya dalam membaca puisinya.

Acara membangun solidaritas antar penyair ASEAN dan Korea ini disebut Poets Literature Festival (KAPLF II) yang dilaksanakan Yayasan Sagang di Riau.

Kegiatan akan berlangsung, 25-29 Oktober 2011 di tiga daerah yakni Pekanbaru, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Siak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Acara pertemuan penyair ini merupakan lanjutan KAPLF pertama yang berlangsung di Korea pada 2010 lalu. Di Riau, para penyair akan diajak untuk mengunjungi langsung sejumlah ikon budaya melayu di Riau seperti candi Muara Takus (Kampar), Istana Siak Sri Indrapura (Siak)," kata Direktur KAPL II, Rida K Liamsi kepada detikcom, Sabtu (22/10/2011) di Pekanbaru.

Rida menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk membangun kebersamaan, membangun solidaritas antar penyair. Karena mereka menilai dengan karya sastra bisa meningkatkan solidaritas dan menjaga hubungan serta menjadi ajang untuk bertukar fikiran.

"50-an penyair tersebut terdiri dari penyair Korea Selatan, negara ASEAN kecuali Laos dan Kamboja karena kondisi sekarang sulit bagi mereka untuk keluar. Tema pertemuan penyair ini adalah Sound of Asia dengan sub tema, Budaya Melayu Sebagai Bagian dari Kebudayaan Dunia," kata Rida.

Pihak panitia juga akan membawa penyair mengunjungi perusahaan minyak raksasa yakni PT Chevron. Kunjungan ini tidak dilihat dari segi ekonominya, tetapi dari segi toleransi orang melayu.

"Meski sudah 100 tahun beroperasi, hampir tidak ada insiden yang berarti. Semua itu tidak terlepas dari sikap orang melayu bertoleransi," ujarnya.

Selanjutnya kegiatan pembacaan baca sajak di anjung seni Idrus Tintin di Jl Sudirman Pekanbaru. Pembacaan essai di pustaka wilayah Soeman Hasibuan (Hs) serta diskusi.

"Dalam pertemuan ini penyair boleh menggunakan bahasa negaranya. Soal bahasa tak ada masalah, silahkan gunakan bahasa masing-masing. Korea menggunakan bahasa Korea, Indonesia menggunakan bahasa Indonesia atau melayu. Silahkan saja. Tapi memang bahasa resminya adalah bahasa Inggris," ujarnya.

(cha/gah)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini