"Ini juga merupakan keinginan negara-negara yang ingin menguasai minyak. Tentu kita harapkan Libya tidak dijadikan Irak kedua. Setelah Saddam Husein tewas digantung, Barat bisa lebih masuk ke Irak karena kepentingan emas hitam. Ini sama-sama jadi incaran Barat," kata Sekjen The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) Fahmi Salsabila dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (21/10/2011).
Melihat Irak, keberadaan Barat yang semula mengusung panji-panji demokrasi dan HAM, namun ternyata hal itu hanya fatamorgana. Tentu masyarakat Libya tak ingin demokrasi di negara tersebut hanya fatamorgana. Rakyat Libya ingin mengatur negaranya sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harapan rakyat Libya berada di pundak Dewan Transisi Nasional yang sementara ini menggantikan Khadafi. Dewan Transisi Nasional punya pekerjaan penting untuk menyatukan kepentingan yang ada Libya, khususnya suku-suku yang ada.
"Dewan Transisi Nasional harus tegas membereskan masalah sendiri sehingga bisa lebih baik. Meskipun agak sulit karena kemenangan melawan Khadafi juga karena bantuan Barat. Pemberontak tidak bisa sendirian karena ada supply senjata, makanan, keuangan dari Barat," tambah Fahmi.
Khadafi tewas dalam penyerbuan pasukan revolusioner di Sirte, Libya. Khadafi tewas setelah mengalami luka tembak di kepala dan kedua kakinya.
(vit/nwk)










































