Zainy tidak sedang eksyen, melainkan sedang bersiap untuk bertugas sebagai penghubung dengan Muassasah Adilla, korporasi yang mengelola haji di Madinah.
Tugas Zainy adalah mengecek paspor jamaah haji Indonesia yang dipegang muassasah. Dia harus sering mengunjungi pemondokan jamaah dan kantor muassasah. Mengatur jamaah yang ketinggalan rombongan ke Makkah atau pun jamaah yang paspornya bermasalah. Dengan kerja yang mobile seperti itu wajar Zainy perlu sarana angkutan yang cepat dan ringkas: motor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dipakai Zainy, petugas yang mobile juga memanfaatkannya untuk kunjungan antarsektor dan sebagainya. Maklum, angkutan umum di Madinah tidak semudah di Tanah Air.
Saat pelaksanaan puncak haji di Armina pada awal November nanti, motor itu akan dibawa ke Mina, lebih 450 km dari Madinah.
"Nanti motor-motor itu akan dibawa dari Madinah dengan mobil bak terbuka, motornya dirantai seperti borgol," kata Oman Suherman, salah satu pengemudi di kantor misi haji.
Di Mina, motor itu akan mengisi "pangkalan ojek". Mina adalah medan berat bagi petugas dan jamaah haji. Karena di sini jamaah akan keluar dari tenda untuk melaksanakan rukun dan wajib haji. Bandingkan dengan wukuf di Arafah, di mana jamaah lebih banyak di tenda untuk wirid dan tafakur.
Di Mina-lah jamaah akan ada yang tersesat jalan, kelelahan atau pun jatuh sakit. Nah, ojek "bebek merah warnanya" akan bertugas mengantar jamaah kesasar itu ke maktab/tendanya.
"Ada motor berapa tuh, kira-kira 11, buat ngantar jamaah tersesat," kata Kepala Satgas Operasi (Kasatop) Arafah, Muzdalifah, Mina (Armina), Letkol Abu Haris, saat memberikan sosialisasi Armina di kantor misi haji Madinah, Rabu malam WAS atau Kamis (20/10)WIB dinihari.
Prosesi haji di Mina nantinya akan dihandel oleh petugas haji dari Madinah. Petugas ojeknya pun para pengemudi dari daerah kerja Madinah, seperti Oman Suherman (42).
Menurut Oman, pengantaran jamaah yang perlu dibantu dengan menggunakan motor bebek itu, memakai sistem kupon 1 riyal (Rp 2.500). Artinya, setiap mengantar satu jamaah, pengantar mendapat upah 1 riyal. Sistem "reward" ini diterapkan untuk menambah semangat para pengantar jamaah kesasar.
Tahun lalu, Oman mengantar jamaah kesasar hingga 100 orang selama 3 hari di Mina, sehingga dia berhak mendapat bonus 100 riyal. "Pinggang sampai sakit," ujarnya. Meski demikian, melihat wajah berterimakasih jamaah yang diantarnya adalah kebahagiaan tak ternilai bagi Oman.
(nrl/anw)











































