Lapan kemungkinan baru besok menuju ke kawasan Tanah Merah, Nunukan, Kalimantan Timur, untuk memeriksa benda angkasa yang jatuh itu. Demikian disampaikan Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lapan Thomas Djamaluddin dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (20/10/2011).
"Ada dua kemungkinan benda itu kalau bukan sampah angkasa, ya meteor," kata Djamaluddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebab benda ini melintas di atas Nunukan sekitar pukul 04.06 Wita pada kemarin subuh, pada ketinggian 187 km. Artinya sudah memasuki atmosfer padat dan kemungkinan jatuh. Saat melintas, kecepatan awal 28 ribu km/jam. Ini karena melintas pada ketinggian kritis, mungkin jatuh di sana," tutur Djamaluddin.
Berdasarkan kesaksian warga sekitar yang melihat cahaya terang dan terbentuknya lubang di bibir pantai, besar kemungkinan benda angkasa itu merupakan benda luar angkasa. Karena itu peneliti Lapan akan meluncur ke daerah itu untuk memastikan.
"Kalau memungkinkan nanti tanah di lubang itu digali untuk mencari meteorit atau logam pecahan bagian dari roket," imbuh alumnus Universitas Kyoto Jepang ini.
Lubang di tanah terbentuk akibat tumbukan benda luar angkasa itu yang menghantam tanah dengan kecepatan tinggi. Jika di lokasi tidak ditemukan benda luar angkasa, bisa jadi benda tersebut terlempar ke tempat lain lantaran menghantam batu atau sesuatu yang keras di tanah.
Informasi yang diperoleh Djamaluddin, di tempat tersebut dulunya merupakan tempat penyimpanan kayu. Kemungkinan masih banyak bagian kayu yang berada di sana sehingga menahan atau memantulkan benda angkasa yang jatuh setelah menumbuk tanah.
"Menurut informasi dari Kepala BMKG di sana, masyarakat melihat cahaya dari arah barat. Kalau dicocokkan, sepertinya ini memang Ariane yang memang arahnya melintas dari barat menuju ke timur," terang Djamaluddin.
(vit/fay)










































