"Kita temukan indikasi adanya tindak penganiayaan terhadap korban (Rahmadan Suhudin) hingga meninggal dunia," kata Kabid Propam Polda Kaltim, AKBP Armed Wijaya saat dihubungi detikcom, Rabu (19/10/2011) malam.
Armed mengatakan, kesimpulan sementara tim Propam yang telah melakukan investigasi di Samarinda, beberapa jam pascameninggalnya Rahmadan, akhir pekan lalu, setelah mengetahui adanya luka memar di bagian wajah korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Armed, berbeda dengan apa yang telah dikatakan Wakapolresta Samarinda AKBP Fadjar Abdillah sebelumnya. Kepada wartawan, Fadjar tegas membantah adanya dugaan penganiayaan dilakukan anggotanya. Fadjar juga menyebutkan, korban ditemukan meninggal dunia di Mapolresta Samarinda, dengan mulut berbusa dan diduga akibat penyakit yang dideritanya.
Sejauh ini, sambung Armed, sejumlah anggota reserse kriminal Polresta Samarinda yang diduga terlibat aksi penganiayaan terhadap Rahmadan, dimintai keterangannya secara intensif di ruang pemeriksaan Unit Propam Polresta Samarinda.
"Ada 7 sampai 8 orang anggota Polresta Samarinda dari Satuan Reserse Kriminal, yang kita mintai keterangan terkait indikasi penganiayaan yang kita temukan," tegas Armed.
Pernyataan Armed juga mempertegas satuan di Polresta Samarinda yang terindikasi melakukan penganiayaan. Sebelumnya, Wakapolresta Samarinda AKBP Fadjar Abdillah tidak pernah merinci satuan mana di Polresta Samarinda, yang telah mengamankan korban bersama ketiga rekannya, akhir pekan lalu.
Armed juga menyebutkan, saat ini bersama dengan Direktorat Reserse Kriminal dan juga Direktorat Intelkam Polda Kaltim, berada di Samarinda, untuk melakukan pemeriksaan langsung terhadap anggota Polresta Samarinda.
"Saya bersama Direskrim dan Dirintel, di Samarinda, menangani langsung penyelidikan ini. Ini perintah Bapak Kapolda Kaltim (Irjen Pol Bambang Widaryatmo), yang memberikan atensi khusus terkait kasus ini," terang Armed.
"Yang jelas, mereka anggota Polri yang terlibat dalam penganiayaan dan diputuskan dalam pengadilan pidana umum, akan dipecat dari keanggotaan Polri," tegas Armed.
"Kita ingin menyelidikinya secara transparan, tidak ada yang ditutupi. Untuk itu, seperti yang saya sebutkan, bersama dengan Dir Reskrim dan Dir Intel, langsung turun ke Samarinda," jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Rahmadan Suhudin (16) tewas pada hari Minggu (16/10) lalu. Kematian putra dari anggota Polsek Kawasan Pelabuhan, Brigadir Suhuddin, menyisakan berbagai keganjilan.
"Bapaknya (Brigadir Suhuddin) ditelpon jam 9 pagi ada penyakit atau tidak? Dijawab tidak ada riwayat penyakit. Namun setelah itu, dikabarkan berikutnya, Ramadhan dalam keadaan tidak bernyawa di RS Dirgahayu" kata juru bicara keluarga korban, La Bia.
"Tidak ada pemberitahuan Polresta Samarinda kalau sedang mengamankan Ramadhan. Justru setelah meninggal baru dikabarkan keberadaannya di rumah sakit," ujar La Bia.
Rahmadan Suhudin (16), pelajar kelas 2 SMA Islam itu berada di Mapolresta Samarinda bersama 3 orang rekannya, setelah ditangkap di kawasan pinggir Sungai Karang Mumus, Jl Tongkol, Minggu (16/10/2011) dinihari, saat sedang asik nongkrong. Tiga orang rekan Rahmadan, diketahui terlibat aksi curanmor di Samarinda. Setelah diotopsi, jenazah korban pun dimakamkan.
(mok/mok)











































