"Selama ini museum belum bisa memunculkan nilai atraktif. Kalau kita bisa membuat hasil budaya menjadi sesuatu yang bisa bercerita tentang keunggulan nilai yang pernah dimiliki bangsa kita, maka di situ akan kena masuk ke museum. Kita bisa mengemas produk budaya secara atraktif dan komunikatif dengan masyarakat," ujar Nuh di kantornya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (19/10/2011).
Menurut Nuh, permasalahan yang timbul selama ini, persoalan budaya tidak akrab dengan para siswa. Padahal museum merupakan penyimpanan hasil budaya bangsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuh menambahkan, jika proses pendidikan dengan kebudayaan disinkronkan secara atraktif maka akan menjadi kekayaan bangsa yang luar biasa. Semakin tinggi budaya suatu bangsa, semakin tinggi juga publik menghargai warisan budaya.
Nuh menuturkan, ada 2 kategori kebudayaan di Indonesia, yaitu kebudayaan sebagai tuntunan dan kebudayaan sebagai tontonan. Sebagai tuntunan terkait dengan nilai, sedangkan sebagai tontonan menjadi bagian dari sumber ekonomi. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
"Tapi yang lebih pas, budaya sebagai tuntunan masuk dalam sektor pendidikan, dan budaya sebagai tontonan masuk dalam sektor pariwisata dan ekonomi," tutup Nuh.
(nvc/nik)










































