Tragedi Srebrenica Diperingati

Tragedi Srebrenica Diperingati

- detikNews
Senin, 12 Jul 2004 14:13 WIB
Den Haag - Ribuan rakyat Bosnia memperingati Tragedi Srebrenica. Presiden Sulejman Tihic mengajak rakyat muslim Bosnia untuk memaafkan dan tidak dendam.11 Juli 1995. Ribuan warga muslim di Srebrenica dipisahkan secara paksa dari keluarganya. Angka resmi memperkirakan jumlah mereka 8.000 orang atau setara 1.600 sorti bus. Mereka diangkut menuju stadion sepakbola atau tanah lapang. Di sana mereka dibantai habis. Drama mengerikan ini dikenal sebagai Tragedi Srebrenica. Bertepatan dengan tanggal itu kemarin (11/7/2004), menurut siaran televisi Belanda NOS, sekurangnya 20.000 orang memperingati peristiwa pembantaian manusia terbesar di Eropa paska Perang Dunia II tersebut. Seremoninya dirangkai dengan pemakaman ulang sejumlah 338 korban yang tulang-belulangnya berhasil diidentifikasi. Lantunan surat Yasin mengguyur peti-peti jenazah bertutup kain hijau, yang berjejer kolosal, siap dimasukkan ke liang-liang lahat yang lebih layak dan terhormat. Sementara tangis para keluarga etnik Slavia penganut Islam itu pecah mengiringi. Presiden Bosnia Sulejman Tihic dalam sambutannya mengajak rakyat muslim Bosnia untuk memaafkan dan menatap hari esok ke depan. "Rasa dendam tidak sesuai dengan agama dan keyakinan kita," kata Tihic.Lebih lanjut Tihic menekankan agar rakyat muslim Bosnia tidak usah menimpakan tanggung jawab atas tragedi itu kepada rakyat Serbia secara keseluruhan. Penerus kepemimpinan almarhum Alija Izetbegovic itu mengajak agar tanggung jawab itu cukup dilihat secara individual, yakni kepada para penjahat perang.Sikap tersebut, menurut Tihic, teramat penting demi membebaskan rakyat Serbia dari kesalahan kolektif atas pembantaian itu. Tokoh Partai Aksi Demokratik, partai Islam utama di Bosnia, itu secara eksplisit menunjuk mantan PM Radovan Karadzic dan Jenderal Ratko Mladic sebagai penjahat perang dan harus dihukum atas perbuatan biadabnya.Peringatan di Den HaagDi Den Haag peristiwa tersebut diperingati dengan demonstrasi. Warga Belanda dari Musyawarah Damai Antargereja menjadi motor aksi yang dilakukan setiap tahun dan telah memasuki tahun ke-9 itu.Tahun ini demonstrasi, yang juga diikuti para pencari suaka asal Bosnia, memilih moto "Kita ada di sana dan kita gagal. Dan lagi-lagi kita tidak mau melindungi" Kalimat kedua jelas dikaitkan dengan kebijakan politik suaka yang diterapkan pemerintah Belanda sekarang, yang gencar memulangkan para pencari suaka, termasuk para korban Srebrenica. Demonstran dalam kesempatan itu mengecam mantan PM Kok sebagai ikut bertanggung jawab atas tragedi tersebut dan PM Balkenende, yang berkuasa sekarang, sebagai kurang berbuat maksimal.Saat peristiwa mengerikan itu terjadi, Srebrenica memang di bawah perlindungan batalion Belanda sebagai pasukan PBB. Namun sang komandan, yakni Letkol Karremans, malah bersulang bersama Jenderal Mladic, sementara ribuan warga muslim diangkut menuju tempat penjagalan. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads