Buat menteri yang dicopot dan tidak mendapat kursi baru, pengumuman reshuflle ini tentu menjadi 'kado' yang kurang enak. Bagaimana tidak, di hari kelahiran, mereka harus menelan pil pahit karena tak dipakai lagi dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.
Hal itu dirasakan oleh Freddy Numberi, Patrialis Akbar dan Darwin Z Saleh. Ketiganya harus menerima kenyataan tak lagi menjabat sebagai menteri dan menjadi anggota kabinet lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenyataan digeser juga harus diterima oleh Mustafa Abubakar yang harus hengkang dari kursi Menteri BUMN. Mustafa yang lahir pada 15 Oktober 1947 konon dicopot karena alasan kesehatannya.
Sementara itu Suharso yang kelahiran 31 Oktober 1954 juga harus melepas status sebagai Menteri Perumahan Rakyat. Kasus Suharso memang sedikit berbeda dengan teman-temannya. Pria ini mengundurkan diri karena masalah keluarga yang sedang dihadapi.
Ya, seperti diketahui, Suharso memang sedang bergelut dengan istrinya yang menggugat bercerai ke pengadilan. SBY sudah menyetujui pengunduran dirinya beberapa hari sebelum pengumuman reshuffle.
Marie Elka Pangestu yang biasanya selalu 'aman', kali ini juga terkena dampak rombakan. Marie yang sudah tujuh tahun memimpin Kementerian Perdagangan harus hengkang dan dipindah ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Marie kelahiran 23 Oktober 1956.
Dari semua menteri yang dipindah ataupun dicopot, hanya dua yang tidak kelahiran bulan Oktober. Mereka adalah Fadel Muhammad dan Jero Wacik.
Jero Wacik yang lahir pada 24 April 1949 itu dipindah dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Menteri ESDM. Sementara Fadel yang lahir 20 Mei 1952 harus mental dari kursi Menteri Kelautan.
Apakah ini ada unsur kesengajaan? Hanya SBY dan Tuhan yang tahu.
(ken/fjp)











































