"Koneksinya bisa karena pelakunya sama, Bisa juga karena ada hubungan antarkorban. Tapi, ini harus diuji secara ilmiah dulu," kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Helmy Santika di kantornya, Jakarta, Selasa (18/10/2011).
Aparat Kepolisian juga melakukan pengambilan sampel darah guna
memastikan ada tidaknya hubungan darah antara kedua korban. Sampel darah kedua korban akan dicocokan dengan uji DNA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, koneksi kedua korban dapat terlihat setelah hasil tes DNA keluar. "Saya nggak bisa katakan itu ada koneksi atau tidak cuma harus diuji klinis oleh forensik. Sekarang itu yang sedang dilakukan," kata dia.
Ketika ditanya pola pengemasan kedua korban (mayat di Jakarta Utara pakai kardus dan mayat di Jakarta Timur pakai koper), Helmy juga belum bisa memastikannya.
"Identik atau tidak identik, penyidik tetap lakukan pencarian terhadap pelakunya. Kalau dia identik, mungkin agak lebih mempermudah karena ternyata korban adalah ibu dan anak, misalkan seperti itu, sehingga fokus penyelidikan mengarah pada satu titik. Tapi, kalau tidak identik maka akan mengarah ke dua titik," paparnya.
Seperti diketahui, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan di dalam kardus di Jl Kurnia, Gang D, Jakarta Timur pada Jumat (14/10) siang lalu. Di dalam kardus tersebut, ditemukan tiga lembar pas foto berwajah seorang pemuda diperkirakan berusia 15-20 tahun.
Keesokannya, Sabtu (15/10), mayat bocah perempuan berusia sekitar 5-10 tahun ditemukan di dalam koper ditemukan di Jl Cakung-Cilincing, Cakung, Jakarta Timur. Pelaku juga meninggalkan petunjuk serupa seperti pada mayat di Koja, yakni sebuah kartu nama.
(mei/aan)











































