Orang Indonesia Pertama di New Caledonia Sejak 1896

Kisah Saan Ngadimin

Orang Indonesia Pertama di New Caledonia Sejak 1896

- detikNews
Selasa, 18 Okt 2011 16:11 WIB
Orang Indonesia Pertama di New Caledonia Sejak 1896
Noumea - Diaspora bangsa Indonesia ke berbagai belahan dunia sudah dimulai sejak lama. Selain ke Afrika Selatan, ternyata orang Indonesia juga sudah menjejakkan kaki di Nouvelle-Caledonie (New Caledonia) sejak 1896.

"Mereka datang pertama kali ke New Caledonia pada 1896 dengan menggunakan kapal laut," tutur Sophie Soejitno, mahasiswi Master of Economic and Applied Foreign Languages, University of La Rochele, Prancis, kepada detikcom, Selasa (18/10/2011).

Dara yang menguasai bahasa Prancis, Inggris, dan Czech, selain Bahasa Indonesia itu menyampaikan sejarah penjejakan kaki pertama orang Indonesia ke New Caledonia berdasarkan kisah Saan Ngadimin, salah satu sesepuh di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang Indonesia sendiri mungkin tak banyak yang tahu di mana letak New Caledonia. Teritori Seberang Laut Republik Prancis sejak 1946 itu terletak di sub-benua Melanesia di Samudera Pasifik, kawasan yang dihuni penduduk asli bernama orang Kanak.

Nenek moyang Ngadimin datang dengan beberapa gelombang untuk bekerja di tambang nikel, sumber daya alam terbesar di New Caledonia. Ngadimin sendiri (lahir 1910) bersama 350 orang berangkat ke New Caledonia dengan kapal bernama Tasman.

Dikisahkan bahwa selama perjalanan berlayar dalam lambung kapal "Tasman" itu mereka sangat sengsara, karena mereka tidur di koridor tanpa bantal dan beralaskan baja lantai kapal nan keras, dengan risiko dihempas oleh dinginnya angin dan hujan.

Selain itu mereka juga tidak diberi makan dan minum. Mereka hanya diberi 1 Kg roti untuk 4 orang dan diperlakukan seperti binatang. Selanjutnya mereka dipindahkan dengan truk ke tambang La Mine de Saint-Louis, New Caledonia.

Dua hari kemudian Ngadimin mulai bekerja menambang nikel di gunung sejak pukul 3 pagi sampai pukul 4 sore dan diberi gaji 3 bulan sekali. Besar gaji Ngadimin saat itu setiap bulannya 30 francs Pacifique (CFP).

Pada masa itu setiap Sabtu ada seorang pedagang membuka toko dan memberi utang makanan dan minuman kepada 70 orang pekerja di tambang tersebut, termasuk Ngadimin.

Ibarat pameo "semut saja kalau diinjak akan melawan", Ngadimin dan pekerja lainnya karena diperlakukan tidak manusiawi akhirnya melakukan perlawanan dengan cara mencampur nikel yang mereka peroleh dengan batu untuk menurunkan kualitasnya.

Nikel tersebut diangkut dengan kereta dorong dan dimasukan kedalam lori sampai penuh. Pekerjaan tersebut dilakukan Ngadimin selama 9 tahun.

"Ngadimin berusaha membagi pengalaman kepada keturunannya dan menilai penting sejarah eksistensi orang Indonesia di New Caledonia, terutama tradisi-tradisinya," pungkas Sophie.
(es/es)


Berita Terkait