Harian Arab News edisi Senin (17/10/2011), melansir, sampai sekitar 30 tahun yang lalu, musim haji dipandang sebagai sumber pendapatan penting bagi penduduk Makkah. Musim haji membantu mereka untuk mengantongi uang yang bisa digunakan untuk memenuhi kehidupan mereka sepanjang satu tahun.
Di musim haji, penduduk Makkah akan menyewakan rumah-rumah mereka, yang mayoritas tidak lebih dari empat lantai, kepada para jamaah. Uang sewa yang didapat bisa digunakan untuk hidup setahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun tren ini belakangan menjadi mimpi buruk bagi penduduk Makkah. Pemerintah Kota Makkah membentuk komite khusus untuk mengecek semua bangunan untuk memutuskan apakah bangunan itu layak disewakan kepada jamaah atau tidak
Meskipun sebagian besar penduduk menghabiskan sebagian besar hidup mereka di bangunan-bangunan rumah itu tanpa ada kecelakaan, tapi komite menyatakan, bangunan-bangunan tua itu tak layak lagi jadi pemondokan jamaah. Penduduk akhirnya kehilangan sumber pendapatan selama musim haji.
"Kami dulu menunggu dengan sabar datangnya musim haji. Ini adalah kesempatan bagi kami mendapatkan uang," ujar Talal Mahjoub, seorang pembimbing haji, pada Arab News.
Dia menceritakan, jamaah dulu datang ke Makkah dua bulan sebelum puncak haji dan pergi sebulan kemudian. "Sekarang jamaah datang ke Arab Saudi hanya beberapa hari sebelum puncak haji dan pergi sesegera mungkin begitu ibadah berakhir. Mereka tidak sampai tinggal selama sebulan," ungkapnya.
Amina Zawawi, seorang wanita tua Saudi, menuturkan, meskipun rumah-rumah warga Makkah sederhana dan tidak terbangun sempurna, namun mereka bisa mendapatkan banyak uang dari hasil sewa kepada jamaah. "Kami menyewakan bangunan hanya beberapa lantai kepada jamaah senilai 40 ribu riyal (Rp 95 juta) selama musim haji. Itu adalah uang yang cukup untuk menopang kami selama 12 bulan," bebernya.
Amina menyatakan, meskipun bangunan-bangunan itu tua, tapi tidak pernah ada yang runtuh atau ambrol. "Kami dulu memberi jamaah makan 3 kali sehari, gratis. Itu tidak merupakan bagian dari perjanjian sewa, kami memberikannya secara sukarela," ujarnya.
Rayed Amin, seorang warga Makkah, menuturkan, para investor yang memiliki bangunan besar dan menara-menara perumahan, ikut terjun ke bisnis penyewaaan akomodasi di musim haji setelah mereka menyadari besarnya keuntungan yang bisa diraup dalam beberapa hari saja. Alhasil, sulit bagi penduduk Saudi untuk menemukan tempat untuk disewa.
"Pemilik lahan menyatakan bahwa bangunan-bangunan itu untuk sewa musiman saja, yang mana sangat mahal," ujarnya.
Amin mengatakan beberapa pemilik lahan akan meminta penyewa untuk mengosongkan apartemen mereka sebelum musim haji dan penyewa bisa datang kembali setelah musim haji jika mereka masih tertarik. Karena tanpa pilihan, banyak warga akan menetap sementara di pinggiran kota selama musim haji.
Seorang pengusaha, yang tidak ingin disebutkan namanya, menuturkan, pemilik lahan yang memiliki menara bangunan akan menyewakan bangunan mereka hanya selama musim haji dan modal pembangunan mereka akan kembali dalam satu atau dua musim haji.
"Mereka (pemilik lahan) tidak harus membayar tagihan listrik atau air karena misi haji akan membereskannya. Dengan cara ini para tuan tanah akan mendapat banyak keuntungan," katanya.
Ketua komite pemondokan haji di Kota Makkah, Zuhair Haddad, menuturkan, 6.514 dari 7.000 bangunan telah berlisensi untuk disewakan kepada jamaah. Informasi dari pemberitaan sebelumnya menyebutkan, 6.514 bangunan itu mampu menampung 1.730.000 jamaah.
Sementara, pemondokan bagi jamaah haji Indonesia di Makkah mayoritas berada di "ring 1" alias dekat dengan Masjidil Haram. Hanya sedikit yang menempati pemondokan 2,5 km dari Masjidil Haram dan disediakan shuttle bus untuk mereka. Tarif pemondokan tersebut 3.600 riyal atau Rp 8,5 juta per orang selama musim haji ini.
(nrl/her)










































