Pukul 10.30 WAS atau 14.30 WIB, beberapa bus yang akan mengangkut kloter 4 BPN (dari Kab Donggala, Bangkep,Palu) tersebut, telah tiba di pinggir jalan di depan pemondokan di Hotel Majeedi Residential.
Usai salat zuhur, 322 jamaah yang telah berpakaian ihrom, masuk ke dalam bus. Tapi apa lacur, kopor-kopor mereka untuk sama-sama diangkut tak juga muncul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gara-gara "silang sengketa" itu, bus berisi jamaah terlalu lama terparkir. Polisi Saudi lalu mengusir bus-bus itu. Karena diusir, bus-bus kembali ke pangkalan sedang jamaah yang semuanya memakai baju ihrom, turun.
Sedikitnya 3 jam mereka nongkrong menanti nasib. Ada juga yang mencari kegiatan di Masjid Nabawi yang selemparan batu dari pelataran hotel.
"Kasihan jamaah kami yang tua-tua, masak harus memikul sendiri kopornya?" ujar Basith.
Urusan angkut-angkut memang kewajiban majmuah, korporasi yang melayani akomodasi jamaah selama di Madinah. Ketika mereka tiba di hotel pekan lalu, majmuah juga yang angkat-angkat.
Akhirnya, tukang angkut dari majmuah datang, usai salat ashar. Mereka mengangkat kopor jamaah dari dalam hotel, menumpuknya di selasar jalan, lalu mengangkutnya dengan kendaraan khusus untuk dinaikkan di atap bus yang juga telah berdatangan kembali. Ketika dijenguk wartawan menjelang magrib, proses pengangkutan itu masih berjalan.
Ketua Kloter 4 BPN yang juga Kepala Depag Kab Donggala, Kiflin Pajala, juga menyesalkan kejadian yang menyebabkan rombongannya telat berjam-jam menuju Makkah, 450 km dari Madinah. "Jamaah lelah menunggu, sehingga ada yang tertidur," ujarnya.
Sedang Kadaker Madinah Akhmad Jauhari menuturkan, masalah teknis itu telah diselesaikan.
(nrl/van)











































