"Dalam pandangan kami, Pak SBY pasti mempertimbangkan untuk mengangkat pejabat internal Kemenneg BUMN pada level deputi untuk mengganti Pak Mustofa Abubakar yang menderita sakit jantung," kata Direktur Eksekutif Institute of Risk Studies, Hery Haryanto Azumi dalam rilisnya kepada detikcom di Jakarta, Minggu (16/10/2011).
Setidaknya menurut Hery, ada ada 3 alasan presiden akan mempertimbangkan pengganti dari kalangan internal. Pertama, mandat pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II ini hanya tersisa 3 tahun. Mengangkat orang baru dari kalangan eksternal Kementerian BUMN hanya akan membuang-buang waktu dan kesempatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, krisis global yang telah melanda zona dollar dan zona euro akan berdampak terhadap perekonomian global. BUMN sebagai lokomotif perekonomian nasional harus tetap solid melalui masa-masa sulit ini. Tanpa inovasi 5 tahun lagi banyak BUMN akan collapse.
"Calon dari luar cenderung harus menyesuaikan diri dengan gagasan-gagasan inovasi yang telah dikembangkan ini," ungkap Hery.
Ketiga, sepanjang usia kementerian BUMN belum ada satupun Menteri yang berasal dari orang dalam. Dan selama itu terbukti bahwa usia pengabdian mereka tidak pernah selesai penuh satu periode. Mulai dari Tanri Abeng, Rozi Munir, Laksamana Sukardi, Sugiharto, Sofyan Jalil sampai Mustofa Abubakar.
"Pak SBY pasti mengambil pelajaran yang berharga dari proses selama ini. Jika pada akhirnya Menteri Negara BUMN tetap diambil dari kalangan eksternal, ada risiko-risiko yang akan dihadapi. Dan Risiko tersebut terjadi maka yang dipertaruhkan adalah seluruh portofolio Pemerintahan SBY-Budiono," pungkasnya.
Sementara pengamat ekonomi dan bisnis, Fauzi Ichsan juga mempertegas keefektifan reshuffle terhadap Menneg BUMN itu, terkait masalah tempo pemerintahan SBY-Boediono yang tinggal dua setengah tahun lagi. "Pertanyaannya apakah objektif pergantian itu untuk memperbaiki kinerja yang hampir dua tahun setengah ini. Kalau tidak ada perbaikannya kinerja, reshufle tidak efektif dan tidak rasional," tegasnya kepada detikcom.
Menurut Fauzi, kalau selama ini BUMN berkinerja buruk, tentunya bukan menterinya yang diganti, tapi para pimpinan BUMN itu sendiri. "Kalau pun ada pergantiian, kalau ada dari internal Kementerian Negara BUMN, itu lebih baik karena lebih paham, ketimbang mengganti orang baru dan dari luar yang harus belajar lagi dari nol," pungkasnya.
(zal/van)











































