Akad nikah akan dilakukan Sultan HB X sendiri dengan mempelai pria disaksikan kerabat dekat. Prosesi ini sama seperti saat Sultan menikahkan putri-putrinya terdahulu.
Ijab qobul akan menggunakan Bahasa Jawa. Bahasa Jawa yang akan digunakan saat akad nikah juga telah dituliskan dalam berkas di Kantor Urusan Agam (KUA) Kecamatan Kraton. Meski KPH Yudanegara berasal dari luar Jawa (Lampung) menyatakan bisa menghafal atau membaca saat ijab nanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Petugas KUA hanya mencatat saja. Sultan sendiri yang akan menikahkan putrinya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan beberapa perhiasan," kata penghulu KUA Kecamatan Kraton, Ahmad Sakdiyah, di kantor, Sabtu (15/10/2011).
Menurut dia, petugas KUA hanya mencatat dan menyaksikan jalannya akad nikah. Calon penganti juga telah mendaftar di KUA pada tanggal 30 Juni 2011. Semua persyaratan dan data kelengkapan masing-masing mempelai sudah lengkap.
"BP4 juga telah memberikan penasihatan sebelum nikah. Semuanya sudah sesuai landasan hukum yang dijalankan," kata Ahmad.
Seusai prosesi akad nikah mempelai pria kembali ke Gedhong Kesatriyan untuk mempersiapkan mengikuti prosesi panggih. Upacara panggih (temu pengantin) akan dilakukan di Bangsal Kencana pada pukul 10.00 WIB. Beberapa tamu undangan khusus VVIP yang diundang untuk hadir dalam acara panggih di antaranya Wapres Boediono serta sejumlah tamu penting para menteri KIB II.
Upacara pernikahan putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X, GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara) dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) diperkiarakan akan menarik minat warga Yogyakarta dan sekitarnya untuk menyaksikan terutama saat kirab pengantin menuju tempat resepsi di Kepatihan. Sedikitnya 9 kereta kuda milik Keraton Ngayogyakarto yang tersimpan di meseum kereta akan dikeluarkan untuk memeriahkan pesta tersebut.
(bgs/ken)











































