Pengamat psikologi politik, Hamdi Muluk mengatakan ketidakpercayaan masyarakat saat ini kepada politik besar sekali. Kegaduhan politik yang ada sudah kehilangan substansinya.
"SBY terlalu mementingkan panggung itu. Padahal, masyarakat sudah bosan. Lama-lama orang sudah nggak peduli," kata Hamdi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kegaduhan boleh, tapi ujungnya harus subtansi, harga sembako murah, cabai murah, out put kerja politik yang nyata," kata Hamdi membandingkan dengan kinerja 2 tahun pemerintahan yang tidak memuaskan.
Pengamat komunikasi politik, Tjipta Lesmana, menjelaskan, dramaturgi adalah teori dalam komunikasi yang menganggap hidup adalah panggung sandiwara.
"Ini cara komunikasi untuk menarik perhatian orang banyak, ini persis dilakukan oleh Presiden SBY," kata Tjipta.
Sekretaris Divisi Komunikasi Politik DPP Partai Demokrat, Hinca Panjaitan, mengatakan acting dalam panggung politik itu sah-sah saja.
"Acting itu tidak dilarang, yang dilarang itu diving. Disediakan panggung kok tidak menari? Kalau tidak digunakan, nanti salah lagi," kata Hinca.
Hinca mengatakan sering tampilnya SBY di media terkait isu reshuffle ini karena menganggap pers menjadi alat penting untuk berkomunikasi kepada publik. "Pers itu buah demokrasi. Lewat pers harus diciptakan keterbukaan," ujarnya.
(lrn/aan)











































