Puluhan ayam yang dipelihara anggota TNI itu mati dikhawatirkan terkena virus flu burung. Ayam-ayam itu dipelihara tepatnya di kawasan perumahan Markas TNI Angkatan Darat, Kelurahan Sapta Marga (Gebang), Kecamatan Cakranegara.
"Kita dapat laporan, puluhan ekor ayam yang dipelihara anggota TNI Angkatan Darat yang bermukim di Kompleks TNI AD, Gebang, mati mendadak. Dikhawatirkan akibat virus flu burung," kata
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Mataram, Mazhuriyadi, Sabtu (15/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mazhuriyadi mengatakan, kandang ayam dan sejumlah rumah di kompleks perumahan tentara itu telah disemprot dengan cairan disinfektan, sesuai prosedur penanganan flu burung. Ayam yang mati dibakar dan dikuburkan.
"Selain penyemprotan, kita juga berikan vaksin," kata Mazhuryadi.
Selain di markas tentara itu, Mazhuriyadi juga mengaku telah menerima laporan dari beberapa kelurahan, terkait ayam mati mendadak. Laporan itu misalnya diterima dari Kelurahan Punia, Gomong, Dasan Agung, Gontoran, Babakan, Nyangget, Karang Sampalan, dan Kelurahan Pajang.
"Laporan yang kita terima, kalau dirata-ratakan dalam sepekan ini, ada 50 ekor ayam mati mendadak di tiap-tiap kelurahan itu," katanya.
Sampel yang diambil dari ayam yang mati dan masih hidup saat ini tengah diperiksa di laboratorium milik Dinas Peternakan provinsi. Belum bisa dipastikan, apakah kematian ayam itu akibat serangan flu burung.
Virus flu burung positif ditemukan di tiga lokasi di Kabupaten Lombok Tengah, masing-masing di Kelurahan Semayan, Kecamatan Praya, Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat Daya, dan Desa Peringgarata, Kecamatan Peringgarata. Tak kurang dari 1.000 ayam mati di tiga lokasi itu dalam sepekan terakhir.
Hanya satu lokasi di Lombok Tengah yang diisolasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB. Dua lokasi yang belum diisolasi, berjarak 25 kilometer dari Kota Mataram.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Hidayat Syamsul Dilaga mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium enam sampel yang dikirim ke Bali. Hasil itu akan diterima pekan depan.
"Setelah menerima hasil uji laboratorium itu, kita baru akan menentukan, apakah statusnya sudah termasuk kejadian luar biasa atau tidak," kata Dilaga.
(aan/aan)











































