"Orang miskin itu orang yang berada di pinggir pusat kekayaan," kata Said dalam acara pelantikan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), ormas sayap PDI Perjuangan, di kantor partai itu, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (14/10/2011).
Said, yang mengenakan batik kemerah-merahan ini mengatakan, NU juga memiliki kesamaan dengan PDI Perjuangan dalam hal komitmen terhadap Pancasila, UUD 1945 NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
"NU itu komunitas bangsa yang taat beragama dengan komitmen full terhadap kebangsaan. Ini bukan basa-basi, bukan strategi, ini betul-betul. Dalam baiat di NU juga dibacakan 'kami berjanji dan taat terhadap NKRI dan Pancasila," kata Said yang juga Dewan Pembina Bamusi ini.
Meski demikian, kata Said, ada yang membedakan NU dan PDIP. "Bedanya baca shalawat-nya NU fasih, kalau PDIP kurang fasih," kata Said disambut gelak tawa puluhan kader partai itu. "Mudah-mudahan dengan Baitul Muslimin fasih semuanya."
Said, yang juga turut mendirikan Bamusi ini, berharap organisasi itu tidak hanya membangun dakwah Islam dalam hal akidah dan syariah, namun juga budaya. Dia juga memberi contoh bangaimana para wali berdakwah dengan menyesuaikan budaya setempat.
"Agama tanpa budaya itu kering, budaya tanpa agama itu jadi beban," kata Said yang menyatakan siap turun ke bawah untuk berdakwah bersama-sama Bamusi.
(lrn/anw)











































