Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman Dr. Eddy Pratomo saat membuka diskusi interaktif bertema Comparing Ideas and Practices on Managing Religious and Cultural Diversity in Indonesia and Germany di Institute for Cultural Diplomacy (ICD), Berlin, Rabu (12/11/2011).
Menurut Dubes, harus terus diupayakan agar dapat dihindarkan berbagai hal destruktif seperti digambarkan oleh ahli politik Amerika Samuel P. Hutington sebagai Clash of Civilization (benturan peradaban, red), dimana identitas dan latarbelakang budaya seseorang atau sekolompok masyarakat dikhawatirkan menjadi sumber utama konflik pascaperang dingin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan, pengalaman reformasi multidimensional di Indonesia yang dimulai lebih dari 10 tahun lalu telah memberi pengalaman bagi Indonesia untuk membangun demokrasi dalam kerangka masyarakat multikultur.
Dalam hal ini, lanjut Dubes, banyak peluang untuk berbagi pengalaman antara Indonesia dan Jerman, yang sejak berakhirnya Perang Dunia II menjadi semakin multikultur dan multiagama, seiring dengan meningkatnya arus imigrasi ke Jerman.
Seperti diketahui, akhir-akhir ini banyak isu muncul berkaitan integrasi berbagai kelompok masyarakat di Jerman. Sementara itu proses dialog antarkepercayaan juga telah mendominasi wacana publik dan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.
"Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk membangun rasa saling pengertian dan toleransi antara masyarakat yang berbeda latarbelakang budayanya juga relevan dalam masyarakat Jerman," papar Dubes.
Dengan berbagai alasan itu maka diskusi interaktif ini diselenggarakan dengan pembicara Dr. Fatimah Husein (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), Prof. Dr. Armada Riyanto (Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang) dan Fr. Eva-Sabine Petry (University of Wales), dengan moderator Direktur ICD Mark Donfried.
Kedua narasumber dari Indonesia banyak menyoroti pengalaman Indonesia dalam menyeleraskan berbagai perbedaan kepercayaan menjadi suatu kekuatan dan menggarisbawahi fundamental bangsa Indonesia yaitu Pancasila sebagai dasar kehidupan bangsa yang sangat majemuk.
Juga disinggung bagaimana pengalaman Indonesia dari berbagai pengaruh minoritas yang juga diberikan kesempatan sama. Terbukti digunakannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu yang sejatinya bukan merupakan bahasa etnik mayoritas di Indonesia.
Sementara itu pembicara dari Jerman Fr. Eva-Sabine Petry menekankan perbedaan perspektif dalam proses integrasi di Jerman. Fr. Sabine juga menekankan bahwa Jerman bisa belajar dari Indonesia bagaimana mencapai integrasi dari berbagai perbedaan budaya.
Diskusi dihadiri para pemuda dari berbagai negara, pengamat politik Jerman, para pemimpin agama di Berlin, perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Jerman, LSM, kalangan media dan pengamat HAM.
(es/es)











































