Roy: TI KPU Merusak Kepercayaan Publik pada Sistem TI
Minggu, 11 Jul 2004 15:15 WIB
Jakarta - Pengamat Telematika dari UGM, Roy Suryo, berpendapat, sering berubahnya sistem penghitungan suara TI KPU merusak kredibilitas TI. "Masyarakat jadi berkurang kepercayaannya pada TI," katanya.Roy mencatat 3 kali perubahan yang terekam dari penghitungan suara dari kecamatan yang muncul dalam penghitungan suara secara TI di website KPU yang bisa diklik pada fasilitas "statitik up date".Menurut catatannya, data pertama muncul pada 5 Juli, lalu fasilitas itu dimatikan. Data tersebut muncul lagi Sabtu malam (10/7) namun datanya telah berkurang dari data per 5 Juli. Perubahan ketiga terjadi pada Minggu siang ini, ada yang bertambah dan berkurang."Semua data hasil penghitungan suara di kecamatan sejak tanggal 6 hingga 11 Juli ini berubah total. Tiap jam berubah. Kalau memang katanya ada verifikasi, kita tanya, siapa orang yang punya hak super supervisor sehingga bisa mengubah semua total data sejak 5 Juli?" tanya Roy pada detikcom, Minggu (11/7/2004) pukul 15.00 WIB.Sebelumnya, staf ahli TI KPU Basuki Sudirman menyatakan, pihaknya memang memodifikasi jumlah suara dari kecamatan yang masuk karena data yang ada terus diverifikasi. Bahkan 40 ribu TPS masih menanti diverifikasi. Fluktuasi suara masih terus terjadi. Jadi wajar saja jika data di TI KPU pun mengalami perubahan.Roy membeberkan keanehan yang didapatnya. Pada 5 Juli pukul 20.00, website TI KPU menunjukkan ada 8.908 kecamatan yang telah masuk suaranya. Padahal, katanya, jumlah kecamatan di Indonesia hanya 5.117. Dari jumlah itu, yang konek komputer hanya 4.402 kecamatan. "Sisanya dari kecamatan mana itu?" tanyanya.Tapi tak lama kemudian jumlah kecamatan yang masuk diturunkan menjadi 600-an. Saat berita ini diturunkan pukul 15.15 WIB, TI KPU hingga pukul 11.00 mencatat jumlah total suara yang masuk berasal dari 4.229 kecamatan."Perubahan-perubahan itu memang potensial menjadi pertanyaan para penanya yang tidak sepakat pada hasil pemilu dengan sistem TI," kata Roy. Seperti diketahui, sejumlah capres merasa dirugikan oleh sistem TI KPU, misalnya kelompok Amien Rais dan Wiranto.Roy menyatakan, siapa pun yang terpilih nantinya, tidak masalah. "Tapi TI KPU jangan merusak sistem TI. Saya sarankan, per orang TI KPU diperiksa, yang melakukan perubahan ini siapa? Orang itu harus bisa menjelaskan perubahan dilakukannya atas dasar apa? Dia harus menyimpan rekaman setiap kali melakukan perubahan dan alasan-alasannya. Kalau TI KPU tidak menyimpan rekaman perubahaan data-data itu, Roy masih menyimpannya," ungkap pria yang beken karena mengungkap keaslian rekaman pembicaraan Presiden Habibie dan Jaksa Agung Ghalib ini."Saya menyayangkan orang-orang TI KPU yang menodai atau melecehkan TI karena sistem yang dibangunnya bisa diubah-ubah seenaknya. Kepercayaan masyarakat pada TI bisa rusak," demikian Roy.
(nrl/)











































