Gus Dur Tolak Berdamai dengan Hasyim Muzadi
Minggu, 11 Jul 2004 13:02 WIB
Jakarta - KPU akan mengumumkan pasangan capres-cawapres yang maju putaran kedua tanggal 26 Juli 2004. Pasangan Capres SBY-Kalla dan Mega-Hasyim sementara menduduki dua peringkat teratas. PKB yang semula mendukung Wiranto-Wahid, harus puas melihat jagonya hingga hari ke-6 tidak beranjak dari posisi ketiga. Lalu kemanakah suara PKB pada pilpres putaran II? Kubu Mega-Hasyim mengaku akan merujukkan Ketua Dewan Syuro PKB Gus Dur dengan Hasyim selaku Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) nonaktif sebelum pilpres putaran II digelar 20 September. Untuk menjaring dukungan penuh dari NU dan PKB, maka rujuknya kedua tokoh itu diperlukan untuk memuluskan Mega-Hasyim ke Istana Negara. Namun Gus Dur menolak berdamai dengan Hasyim. Hubungan keduanya memang kurang harmonis. Terlebih setelah Hasyim menerima pinangan Mega sebagai cawapres. "Hasyim itu tidak jujur, saya tidak akan deal kapan pun dengan dia," kata Gus Dur kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Minggu (11/7/2004). Gus Dur berkeras pada putaran pelpres kedua dirinya tetap akan golput. Ini merupakan konsekuensi penolakan Gus Dur terhadap pelaksanaan pilpres yang diskriminatif. "Itu urusan PKB, saya tetap golput," jawabnya enteng ketika ditanya wartawan pada putaran kedua nanti, apakah PKB akan mendukung SBY-Kalla. Intervensi AsingDi tempat yang sama, Gus Dur juga menyesalkan keikutsertaan The National Democratic Institute for International Affairs (NDI) dalam melakukan survey hasil pilpres, yang beken dikenal dengan Quick Count. Menurut Gus Dur keikutsertaan NDI hanya menunjukkan intervensi asing terhadap tonggak demokrasi di Indonesia. "NDI untuk melakukan polling mesti dilarang, karena jelas-jelas dari luar dan punya pengaruh. Dimana kedaulatan negara, melarang saya bisa, melarang mereka tidak," sesalnya.
(dni/)











































