“Selama di kota Makkah, seluruh calon jamaah asal DKI Jakarta akan mendapatkan jatah makan gratis, dua kali sehari, sehingga diharapkan mereka lebih bisa fokus beribadah,” kata Kepala Biro Pendidikan dan Pembinaan Mental Spiritual Sekretaris Dareah Pemprov DKI Jakarta, H Marullah Matali dalam rilisnya yang disampaikan kepada detikcom di Jakarta, Rabu (12/10/2011) malam.
Sesuai dengan mekanisme dan aturan Kementerian Agama, sebenarnya setiap calon jamaah Indonesia hanya ditanggung konsumisinya selama berada di Madinad dan saat berada di Arafah dan Mina (Armina). Armina yaitu saat Wukuf di Arafah dan Mabit di Mina selama tiga hari. Sisanya, jamaah mengusahakan sendiri konsumsi mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menyiapkan konsumsi tersebut, melalui mekanisme dan aturan yang berlaku, Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan perusahaan katering yang sudah mendapat rekomendasi dari pemerintahan kota Mekah. “Insyaallah, kebersihan dan kecukupan gizinya terjamin.” katanya.
Selain itu, untuk tahun ini Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan 18 bus tambahan untuk mengantar calon hajinya dari pemondokan mereka ke Masjidil Haram, selain bus yang disiapkan oleh Kementerian Agama. Bus-bus itu disiapkan bagi jamaah yang jarak tinggalnya sekitar 2 sampai 2,5 kilometer dari pondokannya ke Masjidil Haram.
Menurut Marullah, kebijakan ini merupakan arahan dan harapan Gubernur Provinsi DKI Jakarta dalam pengukuhan Tim Kafilah Haji DKI Jakarta. Di mana Tim Kafilah harus meningkatkan pelayanan konsumsi, transportasi dan kesehatan untuk jamaah haji asal DKI terus bisa meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi jumlah calon jamaah haji asal DKI Jakarta tercatat yang diberangkatkan tahun ini berjumlah 7.600 orang dan 64 petugas pelayanan konsumsi, kesehatan dan transportasi.
Kebijakan yang diambil Pemprov DKI Jakarta sendiri, menurut Marulla, karena selama ini ketersediaan konsumsi dan transportasi selama di kota suci, Makkah selalu menjadi masalah setiap musim hajinya. Masalah bukan karena soal uang atau harga, karena selama ini justru soal uang tinggal atau living cost dari Kementerian Agama cukup, tapi ketersediaannya yang sering jadi masalah.
“Maklum, tidaklah mudah mencari makanan yang cocok dengan lidah orang Indonesia dan memenuhi standar gizi yang cukup. Biasanya untuk mengatasi masalah ini jamaah secara berkelompok, memasak sendiri, tapi ini kan memerlukan waktu dan tenaga sehingga konsentrasi dan waktu untuk beribadah menjadi berkurang,” pungkasnya.
(zal/lrn)










































