William Liddle Bingung dan Takut Senasib Sidney Jones

William Liddle Bingung dan Takut Senasib Sidney Jones

- detikNews
Sabtu, 10 Jul 2004 17:20 WIB
Jakarta - William Liddle mengaku bingung kenapa namanya muncul sebagai pihak asing yang dianggap ikut campur dalam Pilpres di Indonesia. Dia pun takut senasib dengan Sidney Jones."Saya tidak tahu kenapa nama saya yang muncul. Sebab saya kan tidak ada urusan dengan quick count. Itu kan NDI dan Carter Center. Jadi saya kira agak kacau dengan urusan ini."Demikian kata guru besar ilmu politik Ohio State University AS itu dalam acara peluncuran buku yang diselenggarakan PKS di Gedung Perpustakaan Nasional jalan Salemba Raya Jakarta Pusat, Sabtu (10/7/2004)."Saya di sini hanya sebagai dosen. Mudah-mudahan sudah selesai. Dan setahu saya, Pak Kwik sudah meralat hari ini. Jadi saya anggap tidak ada masalah," ujarnya.Menteri PPN/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie William Liddle dan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Jimmy Carter terlalu mencampuri Pilpres. Kesan campur tangan berlebihan itu terlihat ketika pengumuman quick count oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ternyata, kata Kwik, yang mendominasi pengumuman adalah National Democratic Institute (NDI) dari AS yang bekerja sama dengan LP3ES.Atas hal itu, Liddle menilai tidak ada intervensi dari NDI dan Carter Center. "NDI kan sudah lama di sini dan dapat persetujuan dari pemerintah. Mereka membantu semua parpol di Indonesia sejak 1997 dan tidak ada hubungan dengan pemerintah AS," katanya.Sedangkan Carter Center, lanjut dia, berstatus pemantau pemilu. Jadi tidak masuk akal kalau Carter Center merupakan kepanjangan tangan pemerintah AS atau CIA.Meski demikian diakui Liddle, sebenarnya keberadaan Carter Center tidak diperlukan tahun ini. Carter Center hanya diperlukan tahun 1999, karena saat itu demokrasi di Indonesia masih sangat baru dan perlu pengabsahan ke luar negeri yang diberikan Carter Center."Tapi sekarang Indonesia sudah memiliki demokrasi yang stabil. Jadi menurut saya, Carter Center tidak penting lagi," ujarnya.Dia juga berpendapat tidak ada intervensi pemerintah AS. "Pemerintahan Bush tidak berpihak pada salah satu calon. Sebab tidak ada kepentingan AS terhadap siapa pun yang menang," tukasnya.Ditanya siapa kandidat Pilpres yang akan diuntungkan dengan masalah ini, Liddle memberikan jawaban mengambang. "Setiap partai kan ada yang kecewa karena tidak menang Pemilu atau masuk putaran dua. Yang masuk putaran dua akan menggunakan isu apa saja untuk kepentingannya," ujarnya.Liddle berharap dirinya tidak mengalami nasib serupa dengan Sidney Jones. Direktur Eksekutif International Crisis Group (ICG) itu dideportasi dari Indonesia. ICG yang kerap merilis operasi Jamaah Islamiyah (JI) dinilai melakukan provokasi."Mudah-mudahan saya tidak dididik seperti Sidney Jones. Karena dia itu kan memimpin organisasi yang meneliti tentang gerakan Islam garis keras. Sementara saya kan hanya dosen," katanya penuh harap. Takut nih? (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads