"Kami memberikan teguran dan mereka akan memberikan kompensasi pada hari berikutnya," kata Akhmad Jauhari.
Teguran itu diberikan karena makan siang yang mereka kirim pada jamaah kloter 5 SOC (embarkasi Solo) pada Selasa (11/10) siang, basi. "Menu itu diketahui basi oleh dokter kloter sebelum dikonsumsi jamaah," ujar Jauhari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Dodi lantas mensurvei jamaah di lantai 8 dan 10 yang didampinginya yang jumlahnya 50-an orang. "Ada jamaah yang bilang sayurnya basi, ada yang bilang dagingnya, padahal kondisi boks masih hangat," kata Dodi pada Selasa (11/10) malam.
Menurutnya, ada jamaah yang tetap menyantap menu itu tapi ada juga yang tidak. "Sampai saat ini belum ada laporan yang sakit perut, hanya tadi ada yang mengeluh perutnya kruwel-kruwel, tapi semoga bukan karena itu," ujar dr Dodi.
Setelah menerima laporan nasi boks basi itu, dr Dodi segera lapor ke bagian Sanitasi dan Surveilans (Sansur) Sektor untuk diteruskan ke Sansur di BPHI maupun Kantor Misi Haji Daker Madinah.
Sementara itu, seorang jamaah kloter 5 SOC, Jubari Susanto, mengaku tetap menyantap hidangan basi itu. "Sayurnya basi, saya kasih sambal saja jadi tidak terasa," ujarnya sembari tertawa.
Di tempat yang sama juga terdapat Rosi, petugas penerima katering Al Thuraya. Dia tidak tahu menahu mengapa dan bagaimana hidangan yang diproduksi tempatnya bekerja, menjadi basi. Dia bahkan kaget atas adanya laporan itu.
"Kami tak lari dari kenyataan, kami akan bertanggung jawab," kata Rosi, WNI yang telah lama malang melintang di dunia katering.
Rosi mengakui menu makan siang itu memang basi. "Saya sudah melihatnya sendiri," ujarnya.
Sekadar diketahui, selama di Madinah 8-9 hari, calon jamaah haji Indonesia mendapat kiriman nasi boks untuk makan siang dan makan malam. Ada 15 perusahaan yang melayani ratusan ribu jamaah itu. Ada perusahaan yang mendapat kontrak 10 ribu jamaah, tertinggi 26 ribu jamaah yang dimenangkan Al Andalus.
(nrl/vit)











































