"Di Batam ini sudah sering terjadi kelangkaan BBM. Padahal kuotanya yang diberikan Pertamina ke SPBU sudah sesuai dengan kebutuhan. Tapi tetap saja BBM langka," kata Koordinator Kelompok Diskusi Anti (Kodat) 86, Tain Komari dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (12/10/2011).Menurutnya, kelangkaan BBM yang terjadi di Batam saat ini, disinyalir karena ulah mafia yang menyelundupan BBM ke luar negeri.
"Logikanya, kuota untuk BBM di Batam sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Tapi sekarang BBM tersebut langka, dan itu menunjukan ada yang diselewengkan. Sindikat mafia BBM ini sebenarnya aparat juga tahu," kata Tain yang juga dosen Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak SPBU di Batam yang curang. Caranya, ada mobil tanki yang tidak diisikan ke SPBU melainkan ditumpuk di salah tempat penimbunan. Cara selanjutnya, BBM diisikan di SPBU, namun malam harinya disedot kembali," kata Tain.
Penimbunan BBM ini kata dosen Fakultas Hukum UNRIKA itu, selanjutnya dijual ke kapal-kapal asing. Harganya bisa 4 kali lipat dari harga BBM di SPBU. Inilah yang menyebabkan BBM di sejumlah SPBU di Batam sering kehabisan stok.
"Kita menduga BBM subsidi itu dijual ke kapal-kapal asing. Kalaupun ada yang dijual ke industri di Batam, rasanya itu sangat sedikit sekali. Dan pihak industri sebagian besar juga tidak mau ambil resiko penampung BBM haram tersebut," kata Tain.
Praktik penjualan BBM di tengah laut ke kapal asing ini, sangat diminati. Mengingat harga yang dipatok para mafia BBM itu masih lebih murah dibandingkan BBM dari Singapura dan Malaysia.
"Mafia BBM ini sebagian justru pengusaha SPBU itu sendiri. Ada juga oknum anggota dewan. Tapi anehnya tidak pernah kasus mafia besar BBM itu bisa tertangkap. Ini karenanya dugaan adanya perlindungan dari aparat sendiri," kata Tain.
(cha/gah)











































