Cerita ini berawal ketika perempuan asal Tasikmalaya, Jawa Barat, berkenalan dengan laki-laki asal Jakarta bernama Wahyu yang bekerja sebagai pengamen jalanan.
Perkenalan terus berlanjut sampai akhirnya Lina rela datang ke Ibukota untuk menyusul pujaan hatinya. Tiba di Jakarta, cinta keduanya terus bersemi. Sampai akhirnya, sejoli ini memutuskan untuk berpacaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Wahyu yang semula dikenal Lina ramah saat belum berpacaran mendadak berubah. Lina mengaku sering mendapat perlakuan kasar dari sang kekasih. "Dua minggu lalu kami putus," kata Lina.
Sejak saat itu, Lina mengaku sering diteror via SMA. Kata-kata makian dan kasar terus masuk ke telepon genggamnya yang dikirim sang pacar.
Puncaknya, ketika Lina hendak bertemu dengan pacar barunya yang bekerja sebagai sopir Mikrolet M 01 rute Kampung Melayu-Senen, di terminal Kampung Melayu pada Selasa 11 Oktober 2011, Lina bertemu dengan Wahyu.
Lina terkejut melihat Wahyu. Ia tidak bisa berkutik saat Wahyu memintanya ke kediamannya di Jalan Wedana I.
"Saya dipukul di kepala dan paha di tendang-tendang," ujar Lina sambil memperlihatkan memar di kepala bagian belakangnya.
Bukan hanya penyiksaan, barang berharga milik Lina berupa satu unit telepon genggam dan uang Rp 300 ribu hasil penjualan kue dan sales minuman kemasan raib dibawa Wahyu. "Waktu dipukul tidak ada yang melerai," kata Wahyu.
Lina berharap Wahyu segera dibekuk polisi. "Biar jera saja, karena bukan sekali saya dipukul dia," kata Lina.
(ahy/aan)











































