Sidang paripurna RUU Intelijen Negara yang dihadiri 283 anggota DPR ini dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (11/10/2011).
Tiba-tiba di tengah berlangsungnya sidang paripurna, anggota FPDIP, Honing Sanny, melontarkan interupsi. Ia mempertanyakan tidak adanya foto SBY-Boediono di ruang tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Interupsi Ketua, saya dapat SMS dalam rapat paripurna kali ini tidak perlu ada foto Presiden, itu kenapa Ketua?" kata Honing.
Pertanyaan Honing langsung dijawab Priyo. "Nggak (selalu ada foto SBY dan Boediono). Dalam rapat paripurna, selalu ada foto Pak Presiden SBY dan Pak Wakil Presiden Boediono," jawab Priyo yang berdiri di podium.
Mendengar jawaban Priyo, bagai dikomando mayoritas peserta paripurna langsung menyahut, "Tidak ada...," teriak peserta paripurna.
Priyo lalu menengadahkan kepala ke atas dan mencari-cari keberadaan foto SBY dan Boediono.
"Oh mungkin sedang dibersihkan. Sedang dicari foto yang paling bagus untuk dipasang di ruang paripurna ini," kata Priyo.
Anggota Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, melontarkan celetukan.
"Hari ini, ketua terlihat arif dan bijaksana sekali. Apakah mungkin, Ketua sudah dipanggil ke Cikeas," kata Ruhut yang disambut tawa peserta paripurna.
Priyo terlihat mesam-mesem mendengar 'ocehan' Ruhut tersebut.
"Ya terima kasih. Tetapi Insya Allah, saya masih ingin di sini bersama teman-teman," timpal Priyo.
Rapat kemudian dilanjutkan dengan agenda mendengarkan pandangan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar seputar RUU Intelijen Negara. Paripurna pun tetap dilanjutkan tanpa kehadiran foto Presiden SBY dan Wapres Boediono.
(aan/fay)










































