Batas di Tg Datu & Camar Bulan Ada yang Kena Abrasi & Rusak

Batas di Tg Datu & Camar Bulan Ada yang Kena Abrasi & Rusak

- detikNews
Senin, 10 Okt 2011 18:27 WIB
Batas di Tg Datu & Camar Bulan Ada yang Kena Abrasi & Rusak
Jakarta - Pemerintah menegaskan, patok batas RI-Malaysia di Tanjung Datu dan Camar Bulan tidak ada yang memindahkan. Patok itu ada yang hilang terkena abrasi dan ada yang masih di tempatnya namun dalam kondisi rusak.

Kondisi patok batas ini dijelaskan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dalam jumpa pers di Menko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (10/10/2011).

"Pilar pertama adalah Pilar A1 di Tanjung Datu. Di ujung ini memang berdsarkan pemeriksaan di lapangan, bukan kami di Jakarta berandai-andai, tidak. Ada tim dari Bakorsurtanal pilar A1 tidak ada, memang sudah tidak ada, bukan digeser tapi karena tergerus abrasi," jelas Marty.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atas keadaan itu, Indonesia dan Malaysia masih menentukan letak pilar baru. Malaysia, imbuh Marty, sudah membuat titik referensi yang berjarak 3 meter dari wilayah asal. Indonesia juga sudah membuat titik referensi yang berjarak 7 meter dari wilayah asal.

"Namun sekali lagi itu bukan merupakan batas baru tapi hanya sebagai referensi bahwa ada titik awal yang terkena abrasi," tuturnya.

Sedangkan patok batas lain di Dusun Camar Bulan, titik A 104. Di lapangan, patok batas itu masih ada namun diakui pemerintah dalam kondisi rusak, di mana bagian atas pilarnya hancur.

"Pada awalnya kita mengira ada perpindahan titik karena tim yang ke sana menemukan bekas semen yang mengering yang dilihat seperti bentuk pilar juga. Namun setelah dilakukan pencitraan melalui satelit patok A 104 itu adalah patok yang rusak. Kemungkinan bekas adukan semen saat membikin patok A 104," jelas Marty.

Kemudian, patok batas lain yang masih di wilayah Camar Bulan, ada mercusuar. 2 Mercusuar milik Malaysia dan 1 mercusuar milik Indonesia.

"Yang punya Indonesia adalah warisan Hindia Belanda tahun 1908 dalam kondisi mati, sementara yang punya Malaysia ada 2 yaitu warisan Belanda 1978 dalam kondisi mati dan 1 pada tahun 1990 yang sekarang dalam kondisi hidup. Dan di situ jelas dibatasi berupa pagar kawat. Sehingga bisa kita yakinkan bahwa tidak ada saling mencaplok wilayah," tegas dia.

(nwk/fay)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads