"Korban Arpi, diperkirakan berusia 16 tahun karena tidak ada identitas KTP. Menurut temannya, dia joki 3 in 1," kata petugas Yanmas Laka Polda Metro Jaya, Bripka Rofi saat dihubungi detikcom, Jumat (7/10/2011).
Menurut keterangan teman korban seusianya, Arpi dan kawan-kawannya baru pulang ngejoki di sekitar kawasan sebelum mengarah ke Sudirman. Sekitar pukul 19.45 WIB, waktu ngejoki telah habis, karena batas waktu 3 in 1 hanya sampai pukul 19.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam bus itu, Arpi dan kawan-kawan bergelantungan di dekat pintu belakang. PPD yang ditumpangi Arpi dan kawan-kawannya berada di belakang Kopaja yang disopiri oleh Sunyoto (36).
Saat kondisi jalan padat merayap, Supriyanto kemudian menyalip Kopaja yang saat itu berada di lajur kiri pada jalur lambat, mengarah ke Blok M. Tanpa melihat kondisi penumpang dibelakang, sopir PPD lantas membanting setir ke lajur kanan untuk mendahului Kopaja tersebut.
"Di belakang, korban bergelantung di dekat pintu," ujar dia.
Ketika menyalip, bodi bus tersebut memepet Kopaja. Sehingga hal itu mengakibatkan korban terjepit karena tidak ada ruang antara Kopaja dan PPD.
"Korban terjepit, terbukti dari adanya ceceran darah di bodi belakang Kopaja," jelasnya.
Akibat kecelakaan ini, korban tewas seketika dengan kondisi kepala belakang hancur. Sementara arus lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman di kedua arah sempat macet.
Korban dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat. "Saksi kunci ada di RSCM juga," tutup Rofi.
(mei/irw)











































