Tuduhan Intervensi Lebih Tepat ke LSM Berdana Asing
Jumat, 09 Jul 2004 14:44 WIB
Jakarta - Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin berpendapat, tuduhan intervensi terhadap pemantau asing lebih tepat ditujukan ke LSM berdana asing."Nggak ada intervensi (pemantau asing). Tuduhan itu mungkin lebih tepat ditujukan ke LSM-LSM yang sumber dananya berasal dari pihak asing," kata Nazar di kantornya jalan Imam Bonjol Jakarta Pusat, Jumat (9/7/2004).Menteri PPN/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie mengungkapkan ada campur tangan kuat pengamat asing dalam pembentukan opini publik berkaitan dengan Pilpres melalui mekanisme survei ataupun penghitungan cepat. Intervensi itu diklaim Kwik juga dirasakan pada Menteri Kabinet Gotong Royong.KPU kan juga didanai pihak asing? "Kami kan independen. Bantuan yang diberikan tidak mengikat. Bahkan kami berani menolak usulan dan saran dari lembaga-lembaga asing tentang tata cara pelaksanaan Pemilu," tangkis Nazar.Dia mencontohkan aturan tentang keberadaan pemantau di TPS. Pihak UNDP selaku donatur asing pernah meminta agar para pemantau diizinkan berada di dalam pagar TPS untuk bisa memantau dari dekat proses pelaksanaan pencoblosan."Tapi permintaan itu ditolak KPU. Dan pihak pemantau, baik asing maupun dalam negeri, termasuk Panwas Pemilu diputuskan bisa melakukan pemantauan hanya dari luar pagar TPS. Pertimbangannya, ada banyak orang di TPS. Kalau ditambah pemantau bisa ruwet," tutur Nazar.Beberapa pengamat menyatakan jumlah pemilih Pilpres turun hingga 20 persen ketimbang Pemilu legislatif. Ini terlihat dari banyaknya warga yang terdaftar sebagai pemilih tetap, tapi tidak menggunakan hak pilihnya?"Ini paradigma yang harus diubah. Di negara-negara maju, peran serta warga dalam pemilihan hanya berkisar sekitar 60 persen. Dengan asumsi 20 persen turun, berarti kan ada 80 persen warga yang mencoblos. Itu patut disyyukuri. Mengapa kita mesti meributkan hal-hal yang tidak jelas," tukas Nazar."Bangsa ini tidak akan mati gara-gara itu. Baru akan menjadi masalah apabila yang mencoblos hanya 20 persen. Kalau 80 persen itu bagus. Kalau 60 persen ya syukur lah. Kalau 20 persen, itu baru masalah," tandas Nazar.
(sss/)











































