Jumlah armada yang tidak sebanding dengan penumpang seringkali membuat kondisi bus penuh, sesak dan pastinya tidak nyaman. Situasi ini kerap dimanfaatkan para pelaku kejahatan untuk beraksi.
Kasus pelecehan seksual teranyar pernah dialami S (24), salah seorang karyawati sebuah kantor pengacara, pada akhir September lalu. S saat itu hendak pulang ke kediamannya di kawasan Cipinang Muara malam. Kondisi bus koridor Ancol-Kampung Melayu yang ditumpangi S saat itu penuh sesak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama halnya yang dialami oleh Evi saat naik bus dari Halte Pondok Indah menuju koridor Lebak Bulus-Harmoni. Saat itu Evi memang merasa ada yang menggesek-gesek sesuatu di celana jeans bagian belakang. Karena bus penuh, Evi pun cuek saja.
"Saya enggak curiga. Pas sampai di Halte Sasak, baru dikasih tahu sama penumpang lain, kalau ada pria yang senggol-senggol belakang saya," ungkapnya Februari lalu.
Kebutuhan transportasi khusus perempuan pun menguat. Seiring banyaknya kejadian yang merugikan kaum hawa. Namun untuk mewujudkan bus khusus perempuan dianggap masih sulit. BLU Transjakarta sebagai pengelola mengatakan infrastruktur di lapangan belum mendukung hal tersebut.
"Secara operasional akan sulit karena kondisi infrastrukturnya belum siap," kata Kepala Badan Layanan Umum (BLU) TransJakarta M Akbar.
"Haltenya kan berada dalam satu titik. Sehingga susah memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan," tuturnya.
Salah seorang penumpang Transjakarta, Alfina (21) mengatakan bus khusus perempuan sangat dinantikan. Dalam berbagai kasus, perempuan sangat rentan menjadi korban kejahatan.
"Kalau naik Kopaja rawan copet, naik busway takut disenggol-senggol. Kita serba takut jadinya. Makanya kalau ada usulan itu (bus khusus perempuan) kita merasa terlindungi. Seperti KRL kan ada gerbong khusus wanita tuh, aman kan," ucapnya kepada detikcom di Halte Masjid Agung Al Azhar, Jaksel.
(ape/gah)











































