Irak Benarkan AS Telah Pindahkan Bahan Radioaktif

Irak Benarkan AS Telah Pindahkan Bahan Radioaktif

- detikNews
Jumat, 09 Jul 2004 12:06 WIB
Jakarta - Pemerintah interim Irak membenarkan bahwa Amerika Serikat telah memindahkan material radioaktif dari Irak pada bulan lalu. Konfirmasi itu disampaikan Perdana Menteri (PM) interim Irak Iyad Allawi.Pejabat-pejabat AS dan PBB sebelumnya mengatakan bahwa Washington telah membawa 1,8 ton uranium dan bahan radioaktif lainnya keluar dari Irak. Material tersebut selama ini disimpan di bekas fasilitas riset nuklir Irak yang disita badan pengawas nuklir PBB.PM Allawi membenarkan bahwa uranium dan sekitar 1.000 bahan radioaktif tinggi telah dibawa dari Irak untuk disimpan di AS. Demikian seperti dilansir kantor berita Reuters, Jumat (9/7/2004)."Saya sekarang bisa mengumumkan bahwa Departemen Pertahanan dan Departemen Energi AS telah menyelesaikan operasi bersama untuk mengamankan dan memindahkan dari Irak bahan radiologi dan nuklir yang oleh rezim terguling mungkin saja digunakan dalam peralatan penghancur radiologi atau dialihkan untuk mendukung program senjata nuklir," tukas Allawi dalam sebuah statemen."Irak tidak punya niat dan keinginan untuk melanjutkan program-program itu di masa mendatang. Bahan-bahan yang potensial sebagai senjata pembunuh massal itu tidak disambut di negeri kami dan produksi mereka tidak bisa diterima," imbuh Allawi.Menurut pejabat-pejabat AS, material radioaktif tersebut telah diterbangkan ke sebuah lokasi yang dirahasiakan di AS, setelah dipindahkan dari kompleks nuklir Tuwaitha di sebelah selatan ibukota Baghdad, yang dulu pernah menjadi pusat program senjata nuklir Irak.Pejabat-pejabat Washington mengatakan bahwa langkah ini akan menjauhkan bahan-bahan nuklir yang potensial berbahaya itu dari jangkauan para teroris. Kompleks nuklir Tuwaitha ditutup pada awal tahun 1990-an silam setelah Perang Teluk. Namun berton-ton bahan nuklir tetap disimpan di sana di bawah pengawasan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), badan pengawas nuklir PBB. Hingga terjadinya invasi AS ke Irak tahun lalu, ketika kompleks tersebut dibiarkan tanpa penjagaan dan dijarah oleh warga sipil Irak. (ita/)


Berita Terkait