Di halte Duren Tiga tempat ia memulai, April biasa menunggu bus. Butuh 40 menit untuk sampai ke tempat kerjanya di daerah Thamrin.
"Kalau telat sedikit, bisa nggak dapat bus. Jadi harus lebih pagi," kata April kepada detikcom di Halte Dukuh Atas, Jakarta, Kamis (6/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski Transjakarta kadang membuat kesal dengan berbagai alasan. Namun moda transportasi kebanggaan Gubernur DKI Jakarta ini relatif bisa jadi pilihan.
"Sudah tahu busnya sedikit, harusnya armadanya ditambah. Kan penumpang banyak. Apalagi jam-jam kerja," ungkapnya.
April bercerita dirinya pernah harus rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan bus. Sayangnya saat itu tak ada satupun petugas yang memberikan penjelasan.
"Yang kita butuh itu kepastian waktu. Apakah busnya datang atau tidak. Pas ditanya ke petugas, eh malah nggak tahu, kan emosi jadinya," katanya sambil mengingat saat ia harus antre 2 jam.
Kepastian jadwal masih jadi barang mahal untuk transportasi Jakarta. Penumpang dipaksa untuk berjudi dengan jalanan ibu kota.
Kita tidak bisa memastikan bagaimana macet Jakarta memakan waktu tempuh. Selalu saja ada hal yang meleset dari prediksi.
"Kita ngga bisa konek langsung dengan pusat informasi. Ada memang yang beberapa bisa berhubungan tapi tidak semua halte," jelas salah seorang petugas halte Transjakarta saat ditemui di Mampang Prapatan.
(ape/gah)










































