"Saat ini belum perlu, tapi kita terus melakukan riset. Sampai tahun 2020 kita masih menggunakan energi fosil," kata Syamsya, di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (6/10/2011).
Syamsya menambahkan, karena tingkat polusi yang cukup tinggi diakibatkan oleh energi fosil, maka mulai tahun 2020 Indonesia harus mengurangi reduksi CO2 hingga 26 persen. Hal tersebut tidak mudah, mengingat Indonesia belum memiliki teknologi yang cukup maju untuk itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, menurut Syamsya, Indonesia merupakan negara yang cukup maju dalam menerapkan teknologi nulkir. Meskipun pembangunan PLTN sendiri masih mendapat tantangan besar.
"Menurut survei, sebanyak 60 persen masyarakat tidak menyetujui pembangunan PLTN. Tapi kami akan terus melakukan sosialisasi pengetahuan tentang nuklir," tuturnya.
(fjp/van)











































