Setelah cuti melahirkan selama 2 bulan, Hartina yang merupakan PNS datang kembali ke kantornya di Dinkes Pemkab Takalar, Jl Jenderal Sudirman, Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu (6/10/2011).
Sebelumnya ia merasa minder pada rekan-rekan kantornya dengan peristiwa yang ia alami. Ia disangka gila atau dituduh sengaja bersandiwara oleh teman-temannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hartina menyebutkan, permata-permata keluar satu per satu dari usia kehamilan 7 bulan sampai 9 bulan. Ukuran permatanya sendiri mulai dari diameter 1 cm hingga 3 cm dan beraneka ragam warnanya.
Awalnya, suami Hartina, Briptu Mardona juga dibuat heran dengan peristiwa keluarnya permata dari alat kelamin Hartina, saat usia kandungannya masih 7 bulan. Hartina awalnya enggan memberitahu suaminya, namun karena jumlahnya semakin banyak akhirnya Hartina berani melapor ke suaminya, yang ia nikahi pada Juni 2010 silam.
"Untuk apa saya bersandiwara mengarang-ngarang peristiwa ini. Saya punya pekerjaan PNS, kalau bohong saya mau lari ke mana," pungkas Hartina.
Di Dusun Bonto Maddo, Desa Malewa, Kec Polongbangkeng Utara, Takalar, keluarga Hartina termasuk kalangan terpandang dan disegani. Rumahnya terbilang mewah dibandingkan rumah-rumah warga lainnya.
Hartina yang ditemui wartawan di kantornya, mengaku proses kehamilannya terbilang normal. Hal ini diamini Ibrahim, rekan sekantor Hartina. Menurut Ibrahim, ia menyaksikan bulan demi bulan perkembangan tubuh Hartina. Ia malahan pernah mengantar Hartina memeriksakan kehamilannya di Puskesmas.
(mna/fay)











































