Kisah Pardi yang Terlepas dari Rombongan

Laporan dari Arab Saudi

Kisah Pardi yang Terlepas dari Rombongan

- detikNews
Senin, 03 Okt 2011 23:47 WIB
Kisah Pardi yang Terlepas dari Rombongan
Madinah - Menjelang pukul 16.00 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 20.00 WIB, Senin (3/10/2011), seorang petugas haji dari unsur tenaga musiman (temus) berbicara dalam bahasa Jawa halus pada seorang pria sepuh, yang enggan turun dari mobil operasional Daerah Kerja (Daker) Madinah yang terparkir di halaman Daker.

Petugas berusia muda itu berusaha meyakinkan Pardi bin Majenawi, dia tidak bermaksud buruk pada Pardi. Dia menunjukkan identitasnya yang sama dengan Pardi, termasuk atribut merah putih. Tapi Pardi tetap enggan.

Makin banyak saja petugas yang membujuknya. Pardi bicara kurang jelas dengan bahasa ngapak-ngapak alias Banyumasan. Dia merupakan jamaah sesat, yang terlepas dari rombongannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jamaah sesat itu ditemukan oleh petugas haji yang tengah 'berpatroli'. Pardi berjalan sendirian dengan tertatih-tatih ke arah Gunung Uhud, menjauh dari Masjid Nabawi maupun pemondokan jamaah Indonesia di kawasan Markaziah. Petugas lalu mengontak petugas lain agar membawa mobil guna 'mengevakuasi'-nya.

Bukan perkara mudah untuk menanyai Pardi, sebab Pardi mungkin khawatir orang yang berusaha menolongnya itu akan berbuat jahat kepadanya. Pardi bahkan berusaha membela diri dengan melawan petugas.

Setelah dibujuk-bujuk dengan bahasa Jawa ngoko maupun Banyumasan, akhirnya Pardi bersedia turun dari mobil. "Ayo ngombe-ngombe disik, Mbah (Ayo minum dulu, Mbah)," rayu petugas.

"Aku dipateni yo ra po-po (saya dimatiin juga tidak apa-apa)," jawab Pardi.

Dengan dituntun sejumlah petugas, Pardi yang membawa identitas komplet seperti tas kalung dan gelang, menolak duduk di kursi. Dia memilih kelesetan di lantai.

Dari identitas yang tertulis, terkuak Pardi adalah jamaah dari Kebumen, tepatnya kloter SOC-1 Provinsi Jawa Tengah. Selama di Madinah, dia menetap di sebuah hotel di Sektor IV.

Petugas Daker Madinah lantas menghubungi petugas Sektor IV lewat alat komunikasi "Bravo".

Petugas menghiburnya dengan mengajak bicara, sembari menunggu jemputan dari petugas Sektor IV.

Saat ditanya di mana rumahnya, Pardi menjawab,"........prapatan ngidul." Ketika gelangnya disyut untuk mengetahui identitasnya, dia berucap dalam bahasa daerahnya,"Kenapa dilihat-lihat, gelang ini nggak laku dijual."

Data dari Siskohat menunjukkan, Pardi adalah warga Buluspesantren, Kebumen. Pekerjaan petani, usia tidak diketahui. Dia tiba di Saudi pada Minggu 2 September 2011.

Tak lama kemudian Pardi berusaha pergi sendiri dengan berjalan kaki. Petugas mencegahnya. Akhirnya, petugas memasukkannya kembali ke mobil dan mengantar ke rombongannya.

Sekadar diketahui, jamaah Indonesia mulai berdatangan di Madinah sejak Minggu (2/10). Minggu kemarin jamaah datang sebanyak 14 kloter, hari ini sebanyak 16 kloter. Menangani jamaah sesat, yang rata-rata berusia lanjut, adalah salah satu tugas petugas haji Indonesia. Petugas haji selalu menyarankan jamaah pergi berombongan dan niteni ciri rute yang dilaluinya agar tidak tersesat.

(nrl/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads