"Pasti citra politisi dengan hingar bingar, tidak ada pemberitaan baik. Wajar saja jika tidak ada respon positif dari publik," ujar Pramono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (3/10/2011).
Pramono mengatakan, apalagi hampir 6 bulan terakhir, banyak pemberitaan buruk terhadap politisi terkait dengan tindak pidana korupsi. Survei LSI ini pun sebenarnya bisa menjadi peringatan bagi politisi agar bertindak lebih baik lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Pramono, pemilihan kepala daerah seperti gubernur, bupati dan lain sebagainya saat berkampanye selalu jargonnya antikorupsi. Masyarakat bisa melihat kampanye tersebut sering kali berbeda dalam tindakannya.
"Mereka kan selalu jargonnya antikorupsi. Tetapi seringkali tindakannya malah menyakiti hati rakyat," ungkapnya.
Sebelumnya peneliti LSI, Ardian Sopa mengatakan, 51,3 persen responden menyatakan kerja politisi sangat buruk atau buruk. 23,4 persen menyatakan baik atau sangat baik. Sementara yang tidak menjawab 25,3 persen.
Kepercayaan masyarakat terhadap politisi turun drastis sejak 2005. Hasil tersebut berdasar survei LSI yang dilakukan pada 5-10 September 2011. Survei dilakukan kepada 1.200 responden dengan metode multi stage random sampling di 33 provinsi. Survei yang dilengkapi dengan wawancara ini mempunyai batas kesalahan (margin error) mencapai 2,9 persen.
(gus/fay)











































