"Demokrasi yang belum matang, dalam arti belum consolidated dan matured di banyak negara sering menimbulkan kegaduhan," kata Presiden SBY dalam pembukaan pertemuan pimpinan Komisi Pemilihan Umum se-Asean di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Senin (3/10/2011).
Demokrasi yang belum matang menurut SBY juga tercermin dalam pemilihan umum yang tidak memenuhi standar internasional, yaitu tahap pemilihan yang bebas dan adil. Pelaksaan pemilu juga kerap tidak tertib dan disertai aksi-aksi kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berkeyakinan bahwa home grown democracy itulah yang lebih abadi dan cocok bagi seluruh bangsa," tutur SBY.
SBY menceritakan pengalaman pemilu di Indonesia. Sejak reformasi 13 tahun lalu, Indonesia telah menyelenggarakan tiga kali pemilihan anggota legislatif dan dua kali pemilihan presiden.
"Ketiga pemilu yang diselenggarakan secara reguler setiap lima tahun itu. Pada hakekatnya telah berjalan secara damai, bebas dan adil dan tertib. Dari hasil perolehan suara, ketiga pemilu tersebut sungguh mencerminkan kehendak dan inpirasi rakyat," pamer SBY.
Tentu saja, lanjut SBY, dalam pemilu-pemilu tersebut mengalami banyak kendala. Oleh karenanya, penyelenggara atau lembaga pemilu yang menyelenggarakan pemilu tersebut menurut SBY perlu mendapatkan penghargaan.
"Ke depan, Indoensia akan terus menyempurnakan pemilihan umum kami agar dapat mencerminkan kehidupan demokrasi yang makin substantif dan berkualitas," janji SBY.
(anw/lh)










































