"Jangan karena nila setitik kemudian gebyah uyah (pukul rata). Masih ada politisi yang berintegritas baik," ujar Priyo kepada wartawan di gedung DPR Senayan, Jakarta, Senin (3/10/2011).
Menurut Priyo, akhir-akhir ini pemberitaan media memang banyak menyoroti kinerja buruk politisi. Tak heran masyarakat menilai buruk politisi Senayan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap Banggar DPR yang dinilai masyarakat sangat arogan turut menurunkan citra politisi DPR. Menurut survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), penurunan citra itu mencapai 21 persen dibandingkan 6 tahun lalu.
“Salah satu penurunan citra politisi adalah munculnya pemain baru yang powerfull dalam jaringan mafia korupsi yakni oknum Banggar. Diyakini, oknum di DPR ini menjadi hulu dari persekongkolan politisi tingkat tinggi untuk berbuat kejahatan,“ kata peneliti LSI, Ardian Sopa dalam paparan survei di kantor LSI, Jl Pemuda, Jakarta Timur, Minggu (2/10) kemarin.
“Seperti kejahatan korupsi di Kemenpora dan Kemenaketrans. Jaringan korupsi bekerja lintas partai di Banggar, ada oknum di kementrian, ada broker politik, pengusaha dan kepala daerah. Ini orkestra persekongkolan korupsi,“ terangnya.
Skandal korupsi, menurut LSI, cepat menyebar melalui jaringan sosial media seperti milis, facebook dan twitter.
“Isu buruk mengenai politisi termasuk oknum banggar mendapat multiplier efek yang besar di sosial media. Mereka menjadi bahan olok-olok tanpa sensor siapapun. Hasilnya, politisi citranya turun 21 persen sejak 6 tahun lalu. Ini degradasi yang besar,“ jelas Ardian.
Hasil tersebut berdasar survei LSI yang dilakukan pada 5-10 September 2011. Survei dilakukan kepada 1200 responden dengan metode multi stage random sampling di 33 provinsi. Survei yang dilengkapi dengan wawancara ini mempunyai batas kesalahan (margin error) mencapai 2,9 persen.
(her/gun)











































