Menyajikan Rasa Indonesia di Madinah

Laporan dari Arab Saudi

Menyajikan Rasa Indonesia di Madinah

- detikNews
Minggu, 02 Okt 2011 12:15 WIB
Menyajikan Rasa Indonesia di Madinah
Madinah - Mulai Minggu (2/10/2011) hingga 45 hari mendatang menjadi hari-hari yang sibuk bagi Masduki. Sebab jamaah haji Indonesia, delegasi terbesar sedunia, mulai berdatangan ke Madinah, Arab Saudi.

Masduki adalah koki yang bekerja di Al Thuraya Catering. Perusahaan ini 1 dari 15 perusahaan katering yang memenangi kontrak untuk menyediakan hidangan siang dan malam dalam box bagi jamaah haji Indonesia selama di Madinah.

"Kami melayani 10 ribu jamaah," ujar Masduki, asal Cianjur. Perusahaan katering yang melayani jamaah Indonesia diharuskan memiliki koki asal Indonesia. Tujuannya adalah untuk menyajikan cita rasa Indonesia di menu-menu yang mereka hidangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk memasak hidangan Indonesia, Masduki lebih senang berbelanja di Makkah, 6 jam perjalanan dari Madinah, karena lebih lengkap. "Misalnya laos, di Madinah tidak ada, di Makkah ada," kata pria berkacamata ini.

Selama bekerja di Al Thuraya, Masduki dikontrak 45 hari dengan bayaran 10.000 riyal. Jumlah ini lebih banyak 2.000 riyal dibandingkan yang diterimanya tahun lalu di perusahaan yang berbeda.

Di perusahaan tersebut, Masduki dibantu oleh 3 anak buah dari Indonesia yaitu Salman, Sudiana dan Roni. "Menu yang kami sajikan antara lain ayam serundeng, capcay, opor ayam, rendang, dendeng asam balado dan sate," kisahnya.

Selain melayani jamaah Indonesia, Al Thuraya yang dipimpin oleh Ishaq Wily, juga melayani jamaah Turki. Saat detikcom mengunjungi perusahaan itu bersama rombongan Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPHI) pada Sabtu (1/10), para pekerja dari negara yang berbeda, tampak sedang memasak hidangan Turki. Maklum saja, jamaah Turki telah tiba lebih dulu.

Masalah katering adalah hal sensitif, selain pemondokan dan sarana transportasi. Menjaga cita rasa yang cocok di lidah orang Indonesia adalah hal utama. Sama pentingnya adalah bagaimana agar nasi box itu tetap sehat dikonsumsi saat tiba di tangan jamaah.

Setelah dimasukkan ke box, hidangan tersebut akan dimasukkan ke heater dengan suhu 60 derajat Celcius. Nah, periode keluar dari heater itulah yang sensitif. Kadang-kadang nasi menjadi basi karena jarak keluar dari heater hingga terdistribusi kepada jamaah terdapat rentang waktu lama.

Untuk memastikan hal itu, PPIH bidang kesehatan mengunjungi 15 perusahaan katering di Madinah. Mereka mengecek satu per satu kebersihan dapur, prosesi masak, hingga packing. Termasuk juga mengecek jam antar ke hotel dan batas waktu nasi box masih layak dikonsumsi.

Katering Al-Andalus

Setelah ke Al-Thuraya, rombongan beralih ke Al-Andalus, perusahaan katering besar yang memiliki jaringan 10 hotel. Perusahaan ini memenangi kontrak 26 ribu jamaah. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang mencapai 57 ribu jamaah.

Di sini, pekerja asal Indonesia mencapai 24 orang. Beberapa di antaranya pernah bekerja di restoran Rindu Alam, Puncak. Di antara koki Indonesia itu terdapat Ahmad Usman, asal Ambon. Pria yang telah 3 tahun bekerja di perusahaan itu bergaji 2.000 riyal/bulan.

Perusahaan katering ini memiliki 'pabrik' baru yang modern. Semua yang masuk di dapur harus mengenakan masker dan tutup kepala untuk menunjang higienitas. Saat dijenguk, prosesi memasak belum dimulai karena jamaah belum datang. "Kami biasa belanja keperluan di Madinah," kata Ahmad Usman.'

Usai 'menyidak' perusahaan-perusahaan katering itu, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah Akhmad Jauhari menuturkan, setiap perusahaan katering harus memiliki surat kemampuan produksi untuk menjamin bahwa mereka benar-benar mampu melayani jamaah Indonesia. "Sebab mereka tidak hanya melayani jamaah kita, tapi juga jamaah negara lain," ujarnya.

Sementara, Kasie Kesehatan Daker Madinah dr Subagyo menyatakan, 'sidak' ke 15 perusahaan katering bertujuan untuk memberikan masukan-masukan. "Ini kan masih persiapan. Sebelum dilaunching, kita kasih masukan-masukan," katanya.

Selain Al Thuraya dan Al Andalus, perusahaan katering yang melayani jamaah Indonesia adalah Hamid Luhaibi, United Regional, Taiba, Salal, Saudi Ratios, Hanan Samal, Visitor Taste, United Catering, Muhsin, Oriental Savouri, Jabir, Munief dan Golden Fork.

Jamaah haji Indonesia sebanyak 221 ribu orang, dengan rincian 201 ribu jamaah reguler dan 20 ribu jamaah khusus. Mereka akan bergantian ke Madinah agar berkesempatan melaksanakan ibadah salat arbain di Masjid Nabawi dan ziarah ke tempat-tempat bersejarah lainnya.

(nrl/feb)


Berita Terkait