Acara yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor itu berlangsung di Yayasan Islamic Centre, Al-Ghazali Bogor, di Jl Mawar Bogor Tengah, Jawa Barat, Sabtu (1/10/2011).
Selain Mahfud dan Sinta Nuriyah, tampak hadir juga Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, Ketua GP Ansor Nusron Wahid, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Romo Benny Susetyo, politisi PDI-P Maruarar Sirait.
Deklarasi damai ditandai dengan penandatanganan spanduk berwarna putih polos oleh tokoh-tokoh tersebut, diikuti, sejumlah organisasi kepemudaan, seperti HMI, GMKI, PMII, dan GMNI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Para pemimpin sekarang, setiap kali mengeluarkan kebijakan berdasarkan siapa yang bayar dan itu akan membuat masyarakat dirugikan dan sampai akhirnya timbul perilaku anarkis, karena tidak puas dengan kebijakan itu," kata Mahfud.
Menurut Mahfud, kerukunan bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai mengingat selama ini dibelahan dunia lain, hal tersebut dapat terjadi. "Mengenai kebebasan beragama, ada Masjidil Aqsa yang dikunjungi oleh umat yang berbeda-beda. Namun di sana tidak terjadi perseteruan. Kerukunan antar umat beragama sudah terjadi sejak dahulu," kata Mahfud.
Senada dengan Mahfud, Maruarar mengatakan, Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa membutuhkan keteladanan dari elite dan pemimpin negeri ini. Pancasila hendaknya jangan hanya menjadi retorika para pemimpin, tapi juga harus diimplementasikan.
"Para pemimpin harus membuktikan dia pancasilais," kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.
Nusron mencontohkan, kasus GKI Yasmin di Bogor adalah satu dari sekian kasus pengabaian hak kebebasan beribadah oleh pemimpin.
(fjp/ken)










































