Mahfud MD & Sinta Nuriyah Hadiri Peringatan Kesaktian Pancasila di Bogor

Mahfud MD & Sinta Nuriyah Hadiri Peringatan Kesaktian Pancasila di Bogor

- detikNews
Sabtu, 01 Okt 2011 16:59 WIB
Mahfud MD & Sinta Nuriyah Hadiri Peringatan Kesaktian Pancasila di Bogor
Bogor - Sejumlah tokoh seperti Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah menghadiri peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Bogor, Jawa Barat. Para tokoh itu turut membubuhkan tanda tangan deklarasi damai di spanduk.

Acara yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor itu berlangsung di Yayasan Islamic Centre, Al-Ghazali Bogor, di Jl Mawar Bogor Tengah, Jawa Barat, Sabtu (1/10/2011).
Selain Mahfud dan Sinta Nuriyah, tampak hadir juga Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim, Ketua GP Ansor Nusron Wahid, mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Romo Benny Susetyo, politisi PDI-P Maruarar Sirait.

Deklarasi damai ditandai dengan penandatanganan spanduk berwarna putih polos oleh tokoh-tokoh tersebut, diikuti, sejumlah organisasi kepemudaan, seperti HMI, GMKI, PMII, dan GMNI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan itu, Mahfud MD mengatakan, deklarasi damai perlu dilakukan mengingat selama ini Pancasila hanya dijadikan semboyan oleh pemimpin Nasional. Imbasnya, kerukunan antar masyarakat susah untuk tercapai.

"Para pemimpin sekarang, setiap kali mengeluarkan kebijakan berdasarkan siapa yang bayar dan itu akan membuat masyarakat dirugikan dan sampai akhirnya timbul perilaku anarkis, karena tidak puas dengan kebijakan itu," kata Mahfud.

Menurut Mahfud, kerukunan bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai mengingat selama ini dibelahan dunia lain, hal tersebut dapat terjadi. "Mengenai kebebasan beragama, ada Masjidil Aqsa yang dikunjungi oleh umat yang berbeda-beda. Namun di sana tidak terjadi perseteruan. Kerukunan antar umat beragama sudah terjadi sejak dahulu," kata Mahfud.

Senada dengan Mahfud, Maruarar mengatakan, Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa membutuhkan keteladanan dari elite dan pemimpin negeri ini. Pancasila hendaknya jangan hanya menjadi retorika para pemimpin, tapi juga harus diimplementasikan.

"Para pemimpin harus membuktikan dia pancasilais," kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.

Nusron mencontohkan, kasus GKI Yasmin di Bogor adalah satu dari sekian kasus pengabaian hak kebebasan beribadah oleh pemimpin.
(fjp/ken)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini