"Teknologi informasi sulit dibendung. China atau Iran yang lebih ketat juga bolak-balik kebobolan. Lebih baik memfilter masyarakat dengan edukasi, memberikan pengetahuan untuk menciptakan masyarakat knowledge yang baik," kata Rudi Rusdiah kepada detikcom, Jumat (30/9/2011).
Kendati demikian, Rudi tidak antipati dengan usaha pemblokiran tersebut. Hanya saja, tanpa dibarengi pendidikan yang memadai, masyarakat akan selalu menjadi korban teknologi.
"Melarang boleh saja, itu memang tugas pemerintah. Tapi semakin dilarang, bisa menjadi motif untuk penasaran dan mencari-cari. Yang diperlukan seperti sex education, pendidikan seks yang baik. Mana yang boleh mana yang tidak," ujar Ketua Masyarakat Telematika dan Ketua Asosiasi Warnet Seluruh Indonesia ini.
"Tidak hanya konten porno, konten negatif seperti teroris dapat juga dimanfaatkan untuk hal negatif. Beberapa pengakuan peristiwa pemboman, mereka belajar merakit bom dari internet," katanya.
Sebelumnya, Front Pembela Islam (FPI) mengecam Kementerian Komunikasi dan Informasi yang dinilai kebobolan menyaring situs siaran bugil www.playboyTV.com. Situs tersebut dapat siaran bebas dengan program yang dipenuhi perempuan-perempuan cantik tanpa memakai baju.
Namun, setelah beberapa jam diberitakan, televisi tersebut sulit diakses dan sesekali muncul tulisan 'Situs Ini Diblokir'.
"Tindakan memblokir situs porno memang populer secara politis. Namun ini hanya memberi pesan saja, hanya menakut-nakuti saja, tukas Rudi Rusdiah.
(Ari/anw)











































