Ini Dia Sebab Anjloknya Suara Wiranto-Gus Solah di Jatim

Ini Dia Sebab Anjloknya Suara Wiranto-Gus Solah di Jatim

- detikNews
Kamis, 08 Jul 2004 13:21 WIB
Surabaya - Duet Wiranto-Gus Solah, yang disokong Partai Golkar dan PKB, sementara ini berada di peringkat ketiga di Jawa Timur dengan perolehan suara 23.61 persen. Padahal PKB dan Golkar adalah pemenang pertama dan ketiga pemilu legislatif di Jatim. Kenapa suara Wiranto-Gus Solah begitu anjlok? Menurut Wakil Sekretaris DPW PKB Jatim Anwar Sadat, banyak faktor yang membuat duet Wiranto-Gus Soleh gagal memenangi pemilu presiden di Jatim. Salah satunya adalah kemungkinan tidak optimalnya mesin politik Golkar."Ini mungkin Golkar tidak bekerja secara optimial. Beberapa kantong Golkar di Jatim suaranya hancur dan beralih ke SBY. Tetapi di beberapa basis PKB kita masih bisa mempertahankan suara secara signifikan," katanya.Sadat, yang ditemui wartawan di kantor KPU Jatim, Jl. Tanggulangin, Surabaya, menjelaskan seharusnya Wiranto bisa mendapat 10 juta suara. Yakni enam juta dari PKB, dan empat juta dari Golkar. Tapi dari perhitungan sementara, Wiranto baru meraih 3.644.137 suara dari 75.383.308 suara yang sudah dihitung atau 23,61 persen.Faktor lain, menurut Sadat, adalah kegagalan PKB mempertahankan suara karena banyak warga PKB yang bingung. Sebab awalnya massa PKB hanya tahu Gus Dur sebagai calon presidennya. "Pencalonan Gus Dur ditolak KPU, dan kita tidak memiliki waktu untuk membuat skenario kedua," katanya.Faktor berikutnya, walau PKB telah memutuskan Gus Solah sebagai cawapres Wiranto, namun Gus Dur memutuskan golput. "Sehingga banyak warga PKB yang memutuskan ikut golput," kata Sadat.Selain itu juga ada faktor ketidaktaatan kader PKB terhadap keputusan partai. Lalu ada terfragmentasinya kiai-kiai Jatim antara Gus Solah dan Hasyim Muzadi."Banyak warga PKB Jatim yang memilih Mega-Hasyim Muzadi karena faktor Hasyim. Dan ada juga yang kebingungan siapa yang harus dipilih, antara Gus Solah dan Hasyim, sehingga banyak warga yang memilih SBY sebagai jalan tengah," papar Sadat. (gtp/)


Berita Terkait