Kasus Pilpres di Al Zaytun Jadi Perhatian Uni Eropa
Kamis, 08 Jul 2004 12:56 WIB
Jakarta - Dugaan adanya manipulasi suara di Pesantren Al Zaytun menjadi perhatian yang sangat serius bagi Misi Pemantauan Pemilu Uni Eropa (EU-EOM) di Indonesia karena dianggap sebagai kejadian yang sangat janggal.Hal tersebut dikatakan oleh Kepala EU-EOM Glyn Ford kepada wartawan usai konferensi pers mengenai hasil pemantauan EU-EOM di Sumba Room Hotel Borobudur Jl. Lapangan Banteng, Jakpus, Kamis (8/7/2004)"Kami telah menerima laporan tersebut, dan kami menilai dugaan manipulasi suara tersebut sebagai suatu hal yang sangat serius pada proses pemilihan di Indonesia. Saya mengatakan hal ini sangat janggal, di mana ada TPS yang tempatnya tertutup dan tidak ada akses bagi publik maupun bagi pemantau dalam proses pemungutan suara di lokasi tersebut," kata Ford yang didampingi penerjemahnya.Ford mengakui, pihaknya tidak mengirim pemantau di Pesantren Al Zaytun pada hari H pemilu 5 Juli 2004 yang lalu. "Tapi begitu kami menerima laporan, satu hari sesudah hari H kami mengirimkan pemantau kami yang bekerja sama dengan Panwaslu untuk menyelidiki dan melanjutkan investigasi di Pesantren Al Zaytun tersebut. Dan sampai saat ini kami masih menunggu hasil penyelidikan tersebut," lanjut Ford.Namun Ford juga menerangkan bahwa sampai saat ini pihaknya belum menemukan adanya manipulasi perolehan suara oleh pasangan tertentu, maupun dugaan adanya tekanan dari militer di TPS Pesantren Al Zaytun tersebut."Tapi kalau terbukti, kami harapkan kepada KPU, Panwaslu, dan polisi untuk melakukan tindakan yang tegas terhadap mereka yang bertanggung jawab, karena pemalsuan hasil suara merupakan permasalahan yang sangat substansial," tegas Ford.Sementara itu, Deputi Direktur Eksekutif Pusat Reformasi Pemilu (Cetro) Hadar N. Gumay yang ditemui secara terpisah di tempat yang sama, mengatakan bahwa pihaknya meyakini adanya pelanggaran pada proses penghitungan suara di TPS Pesantren Al Zaytun, yakni dicurigai adanya tekanan dari militer."Menurut saya, ada pelanggaran pada proses pemilihan dan penghitungan suara di Pesantren Al Zaytun, karena TPS di tempat itu tertutup dan tidak ada akses bagi publik dan pemantau, dan hasil pemilunya pun membingungkan," kata Hadar."Untuk itu, pelanggaran tersebut harus diselidiki. Dan kalau terbukti, pihak-pihak yang terkait harus ditindak," demikian Hadar.
(wrs/)











































