"Penggantian menteri semata-mata harus untuk meningkatkan kinerja menteri, bukan karena desakan orang atau partai tertentu. Bila pemerintah bekerja dengan baik itu berarti perbaikan hidup rakyat banyak," kata pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf kepada detikcom, Kamis (29/9/2011).
Maswadi mengatakan, reshuffle menteri harus menjadi cambuk bagi para menteri untuk meningkatkan produktivitas. Dasar dari reshuffle itu sebaiknya pula dari evaluasi kinerja para menteri, bukan usulan partai politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, SBY harus berani merombak kabinet berdasarkan kinerja menteri tanpa mempedulikan asal partai. Meski ia merasa hal itu sulit bagi SBY, tapi Presiden harus memperlihatkan sikap.
"Tapi memang harus ada keberanian. Presiden kan kayaknya paling nggak mau kalau menyinggung perasaan orang lain. Kalau hubungannya dengan orang lain buruk, biasanya nggak mau," ujarnya.
Maswadi mengatakan, kinerja menteri merupakan faktor penting untuk kepemimpinan SBY-Boediono 3 tahun mendatang. Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengganti menteri yang lamban bekerja.
"Kalau menteri tidak menunjukkan kinerja yang bagus, departemennya tidak alami kemajuan, produktivitasnya bisa jadi kuat, ya ganti," tutupnya.
(irw/ahy)











































