Warga Filipina Disandera, Arroyo Gelar Rapat Kabinet

Warga Filipina Disandera, Arroyo Gelar Rapat Kabinet

- detikNews
Kamis, 08 Jul 2004 11:32 WIB
Jakarta - Presiden Filipina Gloria Arroyo mengadakan rapat darurat kabinet untuk membahas kasus penyanderaan seorang pekerja Filipina di Irak. Warga Filipina itu diancam akan dibunuh gerilyawan Irak, jika pasukan Filipina tidak ditarik dari negeri bekas rezim Saddam Hussein itu.Pejabat-pejabat Filipina menuturkan bahwa mungkin saja sandera yang diperlihatkan dalam tayangan di stasiun televisi Al-Jazeera bukanlah warga Filipina. Meski begitu, ancaman ini tetap dianggap serius oleh pemerintah Filipina. Presiden Arroyo hari Kamis ini seperti dilansir AFP, Kamis (8/7/2004), mengumumkan langkah-langkah untuk melarang seluruh warga Filipina pergi bekerja ke Irak. Filipina saat ini masih menempatkan 51 prajurit dan polisi di Irak untuk misi non tempur.Para personel Filipina itu berada di Irak untuk misi kemanusiaan dan membantu rekonstruksi Irak. "Mereka ini personel kemanusiaan dan mereka dilibatkan dalam rekonstruksi," tegas Ignacio Bunye, Juru bicara Arroyo. "Mereka bukan bagian dari pasukan pendudukan," imbuhnya. "Presiden beberapa waktu lalu telah menyatakan bahwa keselamatan warga negara kita akan menjadi salah satu pertimbangan utama untuk terus berada di negeri itu," tutur Bunye di televisi setempat."Masalah ini akan dibahas dengan komite pengawas kabinet dalam pertemuan keamanan internal hari ini," terang Bunye.Selain menempatkan tentara dan polisi, lebih dari 3.000 warga sipil Filipina berada di Irak. Kebanyakan dari mereka dipekerjakan oleh para kontraktor dan bekerja di dalam pangkalan-pangkalan AS di negeri itu. Menurut Bunye, pemerintah Manila telah memulangkan sekitar 200 lebih dari mereka menyusul pembunuhan beberapa sandera oleh gerilyawan Irak. Namun sisanya memilih untuk terus tinggal di sana. (ita/)


Berita Terkait