"Bagi saya, mereka ingin memancing di air keruh. Sekarang sedang ada masalah di Banggar, mereka malah mau jalan-jalan. Kalau mereka bersikukuh ini terkait dengan kebijakan yang mau dibuat, tidak terlalu relevan," kata peneliti Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Hifdzil Alim, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (29/9/2011).
Dengan teknologi informasi dan komunikasi yang telah berkembang begitu cepat, mustahil sulit mendapatkan informasi terkait kebijakan maupun undang-undang dari suatu negara. Jika teknologi dan informasi dimanfaatkan untuk mencari data, maka tidak perlu keluar banyak dana. Uang negara pun dapat dihemat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hifdzil pun bertanya-tanya mengapa Spanyol dipilih sebagai negara untuk studi banding terkait UU intelijen maupun terkait alutsista. Padahal selama ini, negara yang dikenal akan intelijennya adalah AS, ISrael, Rusia, Inggris dan Jerman. Sedangkan produsen alutsista yang namanya dikenal antara lain AS dan Rusia.
"Kenapa ke Spanyol? Apa mau lihat banteng? Jangan-jangan mau melihat Real Madrid dan Barcelona," canda Hifdzil.
Jika tujuan negara untuk studi banding tidak relevan dan tidak hemat anggaran maka kegiatan itu hanya akan jadi olok-olok publik. Apalagi kegiatan itu tentu dilakukan dengan menggunakan uang rakyat, jadi wajar saja jika rakyat akan selalu mengkritisi kegiatan DPR.
"Kalau terus kita dengar logika-logika gila yang dipertunjukkan Dewan, menunjukkan mereka diragukan kompetensinya," ucap Hifdzil.
Komisi I DPR berencana melawat ke Spanyol dan Korea Selatan. Komisi I DPR dibagi menjadi dua rombongan dalam kunjungan tersebut. Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddik mengatakan rencana kunjungan ke Spanyol sedang dibicarakan lagi. Kegiatan itu dalam rangka terkait RUU Intelijen juga terkait pengawasan KBRI. Sedangkan kunjungan ke Korea Selatan dimaksudkan untuk melihat sejumlah industri militer di Korea.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanudin menyebut kunjungan ini dalam rangka pembahasan RUU Industri Strategis Alat Utama Sistem Persenjataan (Insra Alutsista). Namun kapan pastinya Komisi I itu berangkat, TB tidak bisa menjelaskan. Menurutnya bagian sekretariat yang lebih tahu.
(vit/gah)










































