"Nah itulah yang dianggap rapor merah. Program kita ada 150, ada 1 program yang tendernya telat, terus dibilang rapor merah," ujar Tifatul.
Tifatul mengatakan itu saat meninggalkan diskusi tentang Keterbukaan Informasi Publik di Hotel Lumere, Jl Senen Raya, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjut Tifatul, karena ada pinjaman dari Jepang, pihak mediator meminta tender diulang karena adanya protes dari peserta. Karena itu tender selesai pada 3 Juli.
Tifatul tidak risau akan rapor merah berdasarkan penilaian UKP4. Namun hal itu dijadikan dirinya sebagai peringatan.
"Jadi kalau itu dibilang rapor merah menurut saya itu kontrol presiden terhadap menteri dan itu sah sah saja lewat UKP4," tutur dia.
Tifatul mengaku tidak terganggu sama sekali dengan rapor merah yang mengarah pada isu reshuffle. Menurutnya Keminfo tetap berprestasi.
"Sekarang begini, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) kita sangat besar pada 2010, yaitu Rp 12,8 triliun dari anggaran yang ditetapkan hanya Rp 2,8 triliun. Jadi kan negara untung Rp 10 triliun. Jadi kita nggak terganggu kan," kata Tifatul.
"Bagaimana dengan nama Anda yang disebut-sebut akan direshuffle?" tanya wartawan.
"Ya silakan saja. Memang kebetulan di media sosial sedang top kok," jawab Tifatul.
Sebelumnya, Ketua UKP4 Kuntoro Mangkusubroto akan menyerahkan laporan evaluasi rutin kinerja KIB II pada akhir bulan ini. Menurutnya, hingga kini masih ada saja pos kementerian yang mendapatkan nilai merah dalam rapor mereka.
"Tetap ada yang merah, merata di semua kementerian," kata Kuntoro di Istana Negara, Jakarta, Rabu (28/9) kemarin.
(nik/vit)











































