Rara yang mengenakan baju hitam ini menjelaskan pertemuan Dewie Yasin Limpo dengan Masyhuri Hasan tanpa disengaja. Saat itu, ada acara makan-makan keluarga besar Arsyad Sanusi (eks hakim MK).
"Hasan datang setelah BBM-an dengan saya. Saya hanya ajak basa basi, tapi dia datang betulan," ucap perempuan berusia 24 tahun ini kepada Panja Mafia Pemilu, gedung DPR, Senayan, Kamis (29/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang kebetulan di sana ada ibu Dewi. Tapi itu juga tak disengaja. Lalu saya juga kenalkan dengan tante-tante dan ponakan-ponakan," tuturnya.
Pada saat acara makan, Masyhuri berbaur dan berbicara dengan Dewie namun Rara tidak memperhatikannya.
"Ada pembicaraan-pembicaraan ketika itu. Tapi saya tidak nyambung dengan apa yang disampaikan," jelasnya.
Pertemuan ini dianggap penting, karena Rara disebut-sebut pihak yang menghubungkan Masyhuri Hasan dengan Dewie Yasin Limpo dan Neshawati (anak Arsyad Sanusi). Pertemuan itu diduga awal mula pembahasan soal pembuatan surat palsu MK.
Masyhuri ditetapkan sebagai tersangka kasus surat palsu MK. Ia dijerat pasal 263 KUHP karena diduga memalsukan surat.
Masyhuri memberikan tandatangan palsu dan nomor surat palsu pada surat 112 dan 113 tertanggal 14 Agustus. Padahal surat itu dikeluarkan tanpa sepengetahuan Panitera MK Zainal Arifin Hoesein.
Dalam kasus ini, polri juga menetapkan Zainal sebagai tersangka karena diduga mengonsep surat. Namun sejumlah nama yang terseret yakni Andi Nurpati (eks anggota KPU), Dewie Yasin Limpo, Arsyad Sanusi (eks hakim MK)), Neshawati (putri Arsyad) belum ditetapkan sebagai tersangka. Mereka telah membantah terlibat dalam kasus ini.
(ape/lrn)










































